Tepung singkong atau tapioka tidak bisa langsung digunakan untuk memadamkan api kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Menurut ahli kimia, bahan itu harus lebih dulu dimodifikasi menjadi retardan atau bahan penghambat api.
Hal tersebut disampaikan Prof. Dr. Hendro Juwono Guru Besar Departemen Kimia, Fakultas Sains dan Analitika Data (FSAD) Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya saat on air di program Wawasan Suara Surabaya, Senin (31/8/2026).
“Jadi kalau tepung singkong langsung digunakan untuk bahan pemadam karhutla itu belum betul. Jadi memang harus ada perubahan dari tepung singkong menjadi retardan. Retardan itu adalah bahan untuk memadamkan api dengan cara menghalangi reaksi api dengan oksigen,” kata Hendro.
Adapun penjelasan itu disampaikan Prof Hendro merespon Gagasan Prabowo Subianto Presiden yang mendorong penggunaan tepung ubi atau singkong untuk membantu pemadaman karhutla.
Dalam rapat 24 Agustus lalu, Prabowo menyebut metode itu sebagai ubi bombing dan meminta Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengkajinya lebih lanjut.
Prof Hendro mengatakan, pemadaman dengan pati singkong atau tapioka itu sebetulnya penelitian yang dilakukannya puluhan tahun lalu. Menurutnya, tapioka memang punya potensi sebagai bahan dasar retardan, karena kemampuannya menyerap air dan kelembapan dalam jumlah besar.
Selain itu, kalau dibandingkan dengan tepung terigu atau tepung beras, tapioka juga punya keunggulan karena lebih mampu menyerap kelembapan.
Dalam penelitiannya dulu, kata Hendro, tapioka dimodifikasi dengan penambahan poliammonium fosfat. Bahan itu membuat unsur fosfor melekat pada struktur tepung, dan membantu pembentukan char atau lapisan karbon ketika terkena api.
“Jadi kalau itu disebut pemadaman, itu sebenarnya adalah penghambatan reaksi dengan oksigen. Jadi ketika modifikasi pati singkong dikenai api, maka yang pertama terbentuk gel, pertama itu lapisan bawah. Kemudian sesudah gel terus itu akan membentuk lapisan kedua, itu karbon. Sehingga api menjadi jadi bahan yang menghasilkan api itu susah berinteraksi dengan oksigen sehingga dia padam,” jelasnya.
Bahan yang sama, lanjutnya, juga bisa digunakan pada lahan yang belum terbakar lewat proses pembasahan. Tujuannya menjaga vegetasi tetap lembap, sekaligus melokalisir api agar tidak mudah merembet.
Ia menilai tapioka yang telah dimodifikasi punya sejumlah keunggulan dibandingkan air. Salah satunya karena densitas atau massa jenisnya lebih rendah, serta bekerja dengan membentuk lapisan penghambat oksigen.
Hendro juga menyebut sisa bahan retardan berpotensi memberikan manfaat bagi tanah karena mengandung unsur nitrogen dan fosfor yang juga dikenal sebagai unsur pupuk.
“Saya kira malah mungkin tambah subur ya, karena di situ ada unsur P (Posfor/Fosfor) dan unsur N (Nitrogen). Dua-duanya kan unsur pupuk,” katanya.
Meski demikian, Guru Besar Departemen Kimia ITS itu menyebut, penggunaan pati singkong untuk karhutla dalam skala besar masih menghadapi tantangan serius.
Ia mencontohkan, dalam uji coba skala kecil yang pernah dilakukannya, sekitar 100 gram bahan hanya digunakan untuk memadamkan pembakaran kayu pada area sekitar 25 x 25 sentimeter.
Karena itu, penggunaan tapioka pada kebakaran hutan yang mencapai puluhan hingga ratusan hektare, akan butuh bahan dalam jumlah sangat besar.
Tantangan lainnya adalah singkong merupakan bahan pangan. Penggunaan dalam skala masif untuk pemadaman kebakaran dikhawatirkan berbenturan dengan pemenuhan kebutuhan dan harga pangan. Karenanya, Hendro menyarankan BRIN tidak hanya berfokus pada singkong, tetapi juga meneliti biomassa nonpangan lain.
“Singkong ini kan makanan juga. Biomassa yang (dari) makanan. Jadi nanti (dikhawatirkan) ada kontradiksi antara kebutuhan manusia dan yang lain. Saya enggak tahu apakah mungkin teman-teman di Kalimantan punya bahan biomassa yang lain, yang mungkin bisa diolah. Mungkin Brin punya gitu, jadi tidak apa merugikan di satu daerah,” ujarnya.
Menurutnya, potensi bahan lokal perlu terus dieksplorasi, agar teknologi retardan dapat dikembangkan tanpa menimbulkan persoalan baru pada kebutuhan pangan. “Indonesia itu kaya dengan biomassa yang lain,” katanya.
Selain pengembangan teknologi, Hendro menilai penanganan karhutla tetap membutuhkan keterlibatan masyarakat di sekitar kawasan hutan. Ia juga mendorong para peneliti untuk tidak berhenti pada satu jenis bahan atau satu penelitian saja, mengingat persoalan karhutla terus berulang.
“Memang tugasnya begitu. Jangan berhenti di sini. Masalah itu menyelesaikan masalah belum. Tapi problem itu bertahun-tahun ada,” ujarnya. (bil/ham)

NOW ON AIR SSFM 100

