Subandi Bupati Sidoarjo akan melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke sejumlah lokasi Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang menyalurkan makanan Makan Bergizi Gratis (MBG), Rabu (2/9/2026).
Langkah tersebut dilakukan setelah lebih dari 500 anak mendapat penanganan di rumah sakit akibat dugaan keracunan makanan MBG yang dikonsumsi pada Selasa (1/9/2026).
Subandi mengatakan, tim Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sidoarjo akan turun langsung ke lapangan dengan melibatkan sejumlah perangkat daerah, mulai Dinas Kesehatan, perizinan, hingga pihak terkait lainnya.
“Tadi malam kita sudah berkoordinasi dengan tim kita. Pengawasan ini dibawa langsung oleh tim Sekda. Sudah kita perintahkan, insyaallah hari ini kami akan cek di lokasi,” kata Subandi ketika on air di Radio Suara Surabaya pada Rabu pagi.
Menurutnya, pemeriksaan dilakukan secara menyeluruh untuk mengetahui kondisi SPPG dan proses penyediaan makanan MBG.
Pemkab Sidoarjo juga akan mengecek sejumlah lokasi yang menjadi titik pengiriman makanan MBG. Subandi menyebut ada lima lokasi pengiriman yang akan ditelusuri, termasuk sekolah-sekolah yang menerima makanan tersebut.
“Hari ini akan kami cek semuanya di sekolah-sekolah. Terus tempat-tempat MBG yang kemarin pengiriman itu ada lima lokasi itu di mana,” ujarnya.
Ia mengaku selama ini pemerintah daerah tidak mengetahui secara detail apakah SPPG yang menjalankan program MBG di Sidoarjo memenuhi seluruh persyaratan dan layak beroperasi.
“Terkait masalah MBG ini, kami sebagai pimpinan daerah tidak tahu. SPPG ini layak dan tidak ini, kami tidak tahu,” kata Subandi.
Karena itu, Subandi meminta agar pemerintah daerah dilibatkan dalam pengawasan program MBG. Menurutnya, keterlibatan pemerintah daerah penting untuk memastikan kondisi dapur, proses kerja, hingga kelayakan lokasi penyedia makanan.
“Semestinya ketika ada MBG, peran pemerintah daerah, peran bupati ini dilibatkan. Karena apa? Kita bisa melihat, satu dapurnya itu seperti apa. Cara kerjanya seperti apa?” ujarnya.
Selain melakukan sidak, Subandi mengatakan pihaknya telah meminta agar SPPG yang diduga berkaitan dengan kasus tersebut ditutup sementara. Keputusan itu diambil karena muncul kekhawatiran dari pihak pondok pesantren, sekolah, maupun orang tua siswa.
“Kalau kemarin sudah kita sampaikan, saya suruh tutup dengan kondisi seperti ini karena juga sudah pondok juga sudah ada rasa takut. Sekolah-sekolah juga takut dengan kondisi seperti itu. Orang tua pun menerima MBG juga takut,” jelasnya.
Sementara itu, berdasarkan data yang disampaikan Subandi, total pasien yang masuk rumah sakit mencapai 506 orang. Sebanyak 324 pasien sudah keluar rumah sakit, 65 pasien masih menjalani perawatan, dan 117 pasien masih dalam observasi.
Subandi mengatakan, pasien yang masih berada di rumah sakit memiliki kondisi yang beragam. Sebagian di antaranya memiliki riwayat kesehatan tertentu, seperti keluhan sesak, sehingga masih membutuhkan pemantauan.
Menurutnya, pasien yang mengalami dugaan keracunan ringan sebagian besar sudah diperbolehkan pulang. Untuk anak-anak yang sudah pulang, Subandi meminta mereka beristirahat terlebih dahulu di rumah hingga kondisi fisiknya kembali pulih sebelum kembali ke pondok pesantren. (saf/ipg)









