Saat hujan abu berlangsung cukup tebal, perlindungan fisik justru menjadi prioritas. Mengenakan pakaian tertutup, memakai topi, dan mengurangi aktivitas di luar ruangan lebih penting daripada terus menambah lapisan sunscreen.
Arini juga mengingatkan masyarakat agar tidak menggosok kulit ketika membersihkan abu vulkanik. Partikel abu yang menempel dapat bergesekan dengan permukaan kulit dan memperbesar risiko iritasi.
Jika abu sedang banyak, masyarakat sebaiknya tetap berada di dalam ruangan dan menutup pintu serta jendela untuk mengurangi masuknya abu ke dalam rumah.
Perhatian lebih perlu diberikan kepada anak-anak, lansia, serta orang yang memiliki eksim atau kulit sangat sensitif.
Jika setelah terpapar abu muncul kemerahan berat, pembengkakan, sensasi terbakar yang kuat, luka atau lepuh, maupun keluhan yang tidak membaik setelah kulit dibersihkan, masyarakat disarankan memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan.
“Dan tentunya kesehatan kulit hanya salah satu aspek. Abu vulkanik juga dapat mengiritasi mata dan saluran pernapasan, sehingga masyarakat sebaiknya tetap mengikuti informasi dan arahan resmi pemerintah,” terang Arini. (ant/saf/ipg)











