“Karya siswa yang kami terima hari ini bukan sekadar menjadi koleksi, tetapi juga bagian dari ruang belajar yang dapat dibaca dan menginspirasi anak-anak lainnya,” katanya.
Ia berharap kolaborasi antara sekolah, perpustakaan, dan TBM bisa terus dikembangkan untuk memperluas akses bacaan sekaligus membangun kemampuan literasi anak secara lebih menyeluruh.
“Kami berharap kolaborasi ini dapat terus berkembang, sehingga anak-anak tidak hanya memiliki kebiasaan membaca, tetapi juga mampu memahami, mengeksplorasi, dan berani menghasilkan karya,” ujarnya.
Sementara itu, Maharsi Palupining Rini National Principal Sampoerna Academy Surabaya, mengatakan kemampuan literasi perlu dibangun sebagai bagian dari proses belajar yang dekat dengan kehidupan siswa.
“Kami ingin mengajak siswa melihat literasi bukan hanya tentang seberapa banyak anak membaca, tetapi juga tentang seberapa baik mereka memahami, menginterpretasikan, dan memaknai apa yang dibaca. Dari situ, siswa dapat memperluas wawasan, melihat perspektif baru, dan menghubungkan apa yang dipelajari dengan kehidupan di sekitarnya,” ujar Palupi.

NOW ON AIR SSFM 100

