Menurutnya, proses tersebut perlu diterapkan melalui kebiasaan “Gemar Belajar” yang menjadi bagian dari 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat, gerakan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen), sehingga murid tidak hanya membaca, tetapi juga diajak berdiskusi, berefleksi, mengeksplorasi ide, serta menuangkan pemahaman dalam bentuk tulisan dan karya kreatif.
Pembelajaran tersebut, lanjut dia, juga didukung pendekatan STEAM dan 5C, yakni Creativity, Critical Thinking, Communication, Collaboration, dan Character.
Palupi mengatakan proses menghasilkan buku juga memberikan pengalaman bagi murid untuk mengembangkan ide, menerima masukan, dan menyempurnakan tulisan tanpa kehilangan karakter serta suara mereka.
“Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya kami untuk menumbuhkan kebiasaan belajar yang dapat dibawa siswa dalam perjalanan mereka ke depan. Kami berharap literasi dapat menumbuhkan rasa ingin tahu, kepercayaan diri, dan keberanian siswa untuk terus mengeksplorasi hal-hal baru, sehingga mereka tumbuh sebagai pembelajar yang aktif dan mampu menggunakan pengetahuan yang dimiliki untuk menciptakan sesuatu yang bermakna,” katanya.
Ia menyatakan, penguatan literasi menjadi semakin penting di tengah luasnya akses anak terhadap informasi, baik melalui buku, internet, media sosial, maupun berbagai platform digital.
Seperti diketahui, berdasarkan Asesmen Nasional 2025, proporsi murid SD/MI yang mencapai kompetensi minimum literasi membaca berada di angka 55,7 persen. Kondisi tersebut menunjukkan penguatan literasi masih perlu dilakukan sejak dini, termasuk dengan membangun kebiasaan belajar yang mendorong anak tidak hanya membaca, tetapi juga memahami dan mengolah informasi yang mereka temukan.(ris/faz)

NOW ON AIR SSFM 100

