Hariyo Priambudi Setyo Pratomo dosen Teknik Mesin Universitas Kristen (UK) Petra menyebut, abu vulkanik dan asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) berpotensi merusak mesin pesawat hingga mengganggu daya dorong saat berada di udara.
Menurut Hariyo, ancaman itu perlu diwaspadai karena Indonesia berada di jalur Ring of Fire dan juga menghadapi risiko karhutla. Sehingga, abu vulkanik maupun asap kebakaran dapat terbawa angin dan menyebar ke jalur penerbangan.
Ia menjelaskan, abu vulkanik mengandung serpihan batu berukuran kecil, mineral kompleks, hingga pecahan volcanic glass atau kaca vulkanik yang tajam. Sementara asap karhutla mengandung campuran partikel, karbon monoksida (CO), karbon dioksida (CO2), aerosol, serta udara panas turbulen.
“Ini semua bisa memicu erosi bilah kompresor dan mengganggu efisiensi atau kinerja mesin pesawat. Dengan kata lain, meski tergantung dari bobot kepekatannya, keduanya jika tersedot masuk mesin pesawat maka memiliki potensi menghentikan ‘jantung’ utama pesawat di udara,” kata Hariyo dalam keterangannya yang diterima suarasurabaya.net, Kamis (1/10/2026).
Saat pesawat melaju dengan kecepatan tinggi, mesin jet menyedot udara dalam volume besar. Menurut Hariyo, tumbukan partikel secara terus-menerus dapat memicu abrasi pada bilah kompresor, mengganggu pola aliran udara, dan menurunkan efisiensi pembakaran.
Ia menyebut biomass burning atau pembakaran biomassa juga dapat menjadi bahaya bagi penerbangan. Dampaknya tidak hanya pada mesin, tetapi juga dapat mengikis badan pesawat dan menggores kaca kokpit sehingga mengganggu visibilitas pilot.
Selain itu, muatan listrik statis dari partikel yang terbawa di udara juga berpotensi mengganggu komunikasi radio.
Karena itu, pesawat yang terpapar abu vulkanik maupun asap karhutla perlu menjalani pemeriksaan menyeluruh setelah berada di darat. Prosedurnya meliputi pemeriksaan komponen mesin, pembersihan sensor vital, pengecekan filter udara, serta evaluasi terhadap potensi erosi dan korosi sesuai panduan pabrikan.
Hariyo mengingatkan, risiko terhadap penerbangan tetap perlu diperhatikan meski aktivitas gunung api maupun titik kebakaran telah mereda, karena material dapat tetap terbawa dan menyebar mengikuti kondisi atmosfer.
“Pembaruan data sebaran abu secara real-time, keberanian maskapai mengalihkan rute, serta ketelitian otoritas dalam membersihkan landasan pacu (runway) adalah harga mati demi keselamatan,” pungkasnya. (fia/bil/faz)

NOW ON AIR SSFM 100

