Dinas Sumber Daya Air dan Bina Marga (DSDABM) Kota Surabaya menjelaskan urgensi proyek box culvert di Jalan Prof. Dr. Moestopo, yang belakangan dikeluhkan warga karena memicu kemacetan, termasuk akses menuju RSUD Dr. Soetomo.
Adi Gunita Kepala Bidang Drainase DSDABM Kota Surabaya mengatakan, kawasan itu sebelumnya menjadi salah satu pekerjaan rumah DSDABM karena genangan cukup tinggi saat hujan deras.
“Jadi sebagai catatan PR kami ya sebenarnya, mau enggak mau posisi genangannya di Karang Menjangan itu harus kita selesaikan di tahun ini. Salah satunya nanti ya juga dampaknya pada waktu jalan saluran yang akan menyebabkan kemacetan yang ada di Mustopo,” kata Adi saat on air di talkshow program Semanggi Suroboyo di Radio Suara Surabaya, Jumat (3/7/2026).

Bahkan, lanjut dia, di beberapa titik kawasan tersebut, tinggi air bahkan disebut hampir mencapai sekitar 30-40 sentimeter. “Kemarin hampir satu ban mobil ya, 30-40 sentimeter,” ungkapnya.
Adi menjelaskan, air dari kawasan tersebut perlu ditarik menuju rumah pompa dan dialirkan ke Kali Jeblokan. Karena itu, pembangunan saluran baru melalui box culvert di Moestopo dinilai mendesak.
“Salah satunya nanti ya juga dampaknya pada waktu pengerjaan saluran yang akan menyebabkan kemacetan yang ada di Moestopo. Mau enggak mau genangan yang ada di situ harus kita tarik di rumah pompa Darmahusada supaya kita larikan ke Kali Jeblokan seperti itu,” ujarnya.
Saat ditanya soal lamanya durasi pengerjaan proyek tersebut yang diprediksi baru selesai September hingga Oktober mendatang, Adi Gunita mengatakan karena memang ada pembatasan jam kerja.
Pembatasan jam kerja itu dilakukan setelah DSDABM berkoordinasi dengan Dinas Perhubungan dan kepolisian. Sebab, pengerjaan box culvert membutuhkan penggalian terbuka yang melibatkan alat berat dan truk pengangkut material.
Jika pekerjaan dipaksakan pada jam sibuk pagi atau siang hari, kemacetan di kawasan Moestopo dikhawatirkan semakin parah. Apalagi kawasan itu menjadi akses penting menuju rumah sakit dan dilalui ambulans serta pasien yang berobat ke RSUD Dr. Soetomo.
Menurut Adi, pekerjaan fisik di Jalan Moestopo baru bisa dilakukan pada malam hari, mulai sekitar pukul 21.00 WIB hingga 05.00 WIB. Karenanya, ia juga meminta maaf jika pembangunan tersebut berdampak pada lalu lintas beberapa waktu ke depan.
“Jadi sebelumnya kami mohon maaf atas gangguan-gangguan (dari) pembangunan yang ada di Moestopo. Memang pembangunan Moestopo itu tidak bisa dilakukan 24 jam berkaitan dengan dampak-dampak lalu lintasnya, dan izin yang sudah dikeluarkan oleh teman-teman dari kepolisian juga. Kami baru bisa running itu memang di atasnya jam 9 malam sampai selesai jam 5 pagi seperti itu,” kata Adi.
Sementara Hidayat Syah Kepala DSDABM Kota Surabaya mengatakan, Pemkot memahami keluhan warga terkait kemacetan akibat proyek tersebut. Namun, menurutnya, pembangunan saluran tetap harus dilakukan karena menjadi bagian dari penanganan banjir di kawasan sekitar.
Ia menyebut, pemkot berupaya menjawab permintaan warga agar persoalan genangan segera ditangani. “Jadi kan kita akan akan memberikan atensi permintaan masyarakat bahwa ini harus dibangun. Jadi kami sudah membangun tapi juga membangun kan juga perlu waktu,” ujarnya.
Terkait kemungkinan mempercepat pengerjaan hingga 24 jam, Hidayat menyebut hal itu bergantung pada kepolisian. Jika kepolisian memberi kelonggaran jam kerja lebih panjang, pengerjaan bisa lebih cepat.
Harapannya, setelah proyek box culvert itu selesai di bangun, dapat mengurangi genangan di Karang Menjangan dan sekitarnya. “Insyaallah, karena kan sudah besar salurannya,” kata Hidayat. (bil/ipg)

NOW ON AIR SSFM 100

