Peneliti Senior Center for Security and Foreign Affairs (CESFAS) UKI tersebut menjelaskan, kerentanan dapat muncul dari interaksi sosial berulang yang membangun ikatan emosional, penggunaan identitas anonim, serta kebebasan pemain membuat skenario dan simbol dalam permainan.
Menurut Angel, pemanfaatan gim daring oleh kelompok radikal telah terdeteksi sejak dekade 1980-an dan berkembang seiring kemajuan teknologi digital.
Pada 2014, kelompok ISIS mulai memanfaatkan gim seperti Call of Duty untuk menarik perhatian publik dan menyebarkan propaganda.
Risiko tersebut semakin berkembang ketika fitur permainan memungkinkan kustomisasi konten. Angel juga menyebut bahwa pada Oktober 2025, Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) mengonfirmasi pola rekrutmen yang mengarahkan anak muda dari platform gim ke grup percakapan tertutup, seperti WhatsApp atau Telegram, untuk membangun komunikasi yang lebih intensif.
Angel menilai gim yang terbuka bagi berbagai kelompok usia, mengusung simulasi militer atau peperangan, serta memungkinkan pengguna membuat konten sendiri perlu mendapat perhatian dalam upaya pencegahan.
NOW ON AIR SSFM 100

