Namun, penanganan risiko tersebut tidak cukup hanya dengan membatasi akses atau memblokir konten. Keluarga, menurut Angel, memiliki peran penting dalam membangun ketahanan anak terhadap propaganda ekstremisme.
Orang tua perlu mengenali gim yang dimainkan anak, menetapkan aturan penggunaan perangkat digital, mengaktifkan fitur keselamatan, serta membangun komunikasi terbuka tanpa menghakimi.
Perubahan perilaku yang mendadak, seperti kecenderungan mengisolasi diri, kebencian intens terhadap kelompok tertentu, atau keterlibatan dalam komunitas yang mengagungkan kekerasan, juga perlu menjadi perhatian.
Di tingkat kebijakan, Angel mendorong pemerintah memperkuat kolaborasi antara BNPT, Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi), Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri), serta masyarakat.
Pendekatan pencegahan perlu bergeser dari sekadar pemblokiran konten menuju tata kelola keamanan digital berbasis risiko.
NOW ON AIR SSFM 100

