Prof. Ir. Dwikorita Karnawati, Guru Besar Geologi Lingkungan dan Mitigasi Bencana Universitas Gadjah Mada (UGM) menilai modifikasi cuaca paling efektif dilakukan sebelum El Nino berlangsung, tepatnya ketika awan hujan masih tersedia.
Prakiraan soal El Nino umumnya diketahui beberapa bulan sebelum fenomena itu terjadi. Masa-masa itu dapat dimanfaatkan untuk menambah cadangan air di waduk, hingga membasahi lahan gambut sebelum memasuki periode kekeringan.
“Kalau modifikasi cuaca itu bisa sangat berarti, dilakukan sebelum El Nino terjadi. Jadi biasanya BMKG memprediksi kejadian El Nino itu tiga sampai enam bulan sebelumnya El Nino diprediksi. Nah, sehingga Artinya tiga atau enam bulan sebelum El Nino itu masih musim hujan. Curah hujan masih cukup tinggi. Nah, di situlah modifikasi cuaca bisa dilakukan bila ada awan-awan hujan,” kata mantan Kepala Badan Metorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) saat on air di program Wawasan Suara Surabaya, Senin (10/8/2026).
Dwikorita menjelaskan, pada periode tersebut, curah hujan biasanya masih cukup tinggi, sehingga terdapat awan yang dapat menjadi media modifikasi cuaca.
Adapun prinsip modifikasi cuaca, lanjut Dwikorita, sebetulnya bukan menciptakan hujan dari kondisi tanpa awan, melainkan mempercepat proses hujan dari awan yang sudah memiliki kandungan air cukup tinggi.
Awan dengan tingkat kejenuhan air di atas 70 persen dapat diberi zat tertentu untuk mempercepat kondensasi, sehingga hujan turun di wilayah yang dibutuhkan. Karena itu, modifikasi cuaca dapat diarahkan untuk mengisi waduk di daerah yang diprediksi mengalami kekeringan, maupun membasahi lahan gambut.
“Namun saat El Nino, sudah tidak ada awan hujan, tidak ada media yang bisa diturunkan karena awannya sudah enggak ada. Kalau masih ada awan itu bisa. Jadi sebaiknya untuk daerah-daerah yang diprediksi akan kering, itu waduk-waduknya diisi dari awan-awan hujan yang diturunkan dengan modifikasi cuaca,” bebernya.
Masalah muncul ketika El Nino sudah berlangsung. Fenomena tersebut membuat pembentukan awan hujan di Indonesia berkurang sehingga media utama untuk melakukan modifikasi cuaca juga semakin sedikit.
Secara teori, Dwikorita mengatakan teknologi flare masih dapat digunakan untuk membantu proses pembentukan hujan. Metode penyemaian awan dengan membakar suar berisi partikel higroskopis seperti garam khusus tersebut juga telah diterapkan di sejumlah negara, termasuk Malaysia.
Namun, ia mengakui penerapannya menghadapi tantangan besar karena membutuhkan biaya tinggi. “Secara teori, secara teori modifikasi cuaca pakai flare itu bisa. Tapi biaya tinggi, kurang efektif,” ujarnya.
El Nino Menarik Awan Hujan Menjauh dari Indonesia
Pada kesempatan itu, Dwikorita juga menjelaskan bahwa El Nino terjadi akibat perubahan suhu muka laut di Samudra Pasifik bagian ekuator atau garis khatulistiwa tengah dan timur yang menjadi lebih hangat dibandingkan perairan Indonesia.
Perbedaan suhu tersebut membuat pembentukan awan hujan lebih terkonsentrasi di Pasifik, sehingga Indonesia mengalami penurunan curah hujan. “Jadi seakan-akan awan-awan hujan itu lebih direbut ke wilayah sana, di Indonesia kita jadi kekurangan,” katanya.
Kondisi itulah yang kemudian memicu kekeringan dengan dampak luas, mulai ketersediaan air berkurang, produkti pertanian terganggu, hingga gagal panen berujung kenaikan harga pangan.
Kekurangan air juga berpotensi mengganggu kebutuhan sehari-hari dan sanitasi. Pada saat bersamaan, udara yang semakin kering dan minimnya hujan dapat meningkatkan polusi serta risiko penyakit, termasuk gangguan saluran pernapasan dan diare.
Selain itu, ancaman lain yang paling perlu diwaspadai adalah kebakaran hutan dan lahan (Karhutla), karena vegetasi yang mengering jadi semakin mudah terbakar.
“Nah, ini akan sulit dipadamkan bila air sudah sulit. Oleh karena itu, kita harus hati-hati jangan dengan sengaja atau tidak sengaja menyulut api,” jelasnya.
Secara geologi, kekeringan ekstrem juga dapat membuat permukaan tanah retak, karena pori-porinya kehilangan kandungan air. Akibatnya tanah dapat sedikit mengalami amblesan apabila mendapat beban, meski penurunannya tidak signifikan.
“Tapi yang jelas tanah itu menjadi retak-retak karena kering tadi. Bukan turun kayak longsor gitu, bukan. Retak-retak, pecah karena kosong lalu sedikit ambles, tapi tidak begitu signifikan,” katanya.
Dwikorita juga menyoroti kecenderungan periode ulang El Nino yang semakin pendek. Berdasarkan data BMKG yang ia sampaikan, sebelum 1970 lalu, fenomena El Nino dan La Nina memiliki periode ulang sekitar lima hingga delapan tahun. Tapi, dalam beberapa dekade terakhir, jaraknya memendek jadi dua hingga lima tahun.
“Jadi yang tadinya lima tahun itu periode paling pendek, sekarang itu menjadi periode paling panjang dan yang terakhir tahun 2023 sudah terjadi El Nino. Sekarang 2026 baru 3 tahun,” ujarnya.
Menurutnya, El Nino memang anomali iklim global yang secara alamiah dapat terjadi. Tapi, perubahan iklim akibat aktivitas manusia juga memengaruhi kecenderungan fenomena tersebut jadi semakin sering dan kuat.
Untuk El Nino 2026, prediksi awal memperkirakan fenomena tersebut berlangsung hingga Oktober. Namun, berdasarkan pembaruan informasi BMKG yang disebut Dwikorita, dampaknya berpotensi bertahan lebih lama.
“Prediksi awal sampai Oktober. Namun, beberapa hari yang lalu BMKG memperbarui informasi hasil prediksinya, diprediksi sampai kuartal pertama tahun depan,” katanya.
Karena itu, selain menyiapkan modifikasi cuaca sebelum kondisi mengering, masyarakat juga diminta menghemat penggunaan air, menampung air hujan selagi masih tersedia, serta tidak membakar sampah maupun lahan selama periode kering.
Untuk wilayah Indonesia bagian utara itu masih ada hujan. Sehingga mumpung masih ada hujan, panenlah air hujan tadi, ditabung karena El Nino-nya mungkin belum mulai atau mencapai puncak. Yang masih ada hujan tabunglah air hujan itu di tandon-tandon, di embung-embung, atau di resapan-resapan itu,” pungkasnya. (bil/ham)

NOW ON AIR SSFM 100

