Jumat, 11 September 2026

Hasil Lab MBG Santri Sidoarjo Sudah Keluar, Positif Terkontaminasi Bakteri

Laporan oleh Akira Tandika Paramitaningtyas
Bagikan
SPPG Kalitengah, Tanggulangin, Sidoarjo yang disuspend operasionalnya usai kasus keracunan massal pada awal September lalu. Foto: Akira suarasurabaya.net

Hasil uji lab makan bergizi gratis (MBG) yang sebabkan ratusan santri dan murid keracunan di Sidoarjo, telah keluar. Dari sampel yang diambil, ditemukan bahwa MBG yang dimakan pada 1 September 2026 lalu positif terkontaminasi bakteri.

Ainur Rahman Plt Sekda Sidoarjo yang juga sebagai Kepala Satgas MBG Sidoarjo menerangkan, hasil uji lab dari Balai Besar Laboratorium Kesehatan Masyarakat (BBLabkesmas) Surabaya sudah keluar sejak (7/9/2026) lalu.

Dari hasil uji lab itu, pihaknya menemukan memang ada beberapa sampel yang menunjukkan hasil positif mengandung bakteri.

“Hasil laboratoriumnya susah keluar. Ada item pemeriksaan kemarin yang positif (bakteri),” katanya, dikonfirmasi suarasurabaya.net Jumat (11/9/2026).

Meski begitu, pihaknya belum bisa memberikan penjelasan lebih panjang. Karena, hasil lab yang diberikan mengandung data sangat teknis.

“Datanya sangat teknis, jadi harus saya diskusikan dahulu dengan Dinkes Sidoarjo. Nanti kalau hasil summary-nya sudah keluar, akan saya sampaikan,” ungkapnya.

Adapun saat ini Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sidoarjo telah menyerahkan hasil uji lab itu pada pihak kepolisian untuk menjadi pendukung investigasi terkait insiden keracunan.

“Hasilnya sudah kami sampaikan ke Polresta Sidoarjo,” pungkasnya.

Sebelumnya, Pondok Pesantren Manbaul Hikam masih menghentikan sementara penerimaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) di lingkungan pesantren, setelah kasus gangguan kesehatan dialami ratusan santrinya usai mengonsumsi MBG tersebut.

Di tengah pemberhentian program MBG untuk evaluasi, KH Abdul Wahid Harun Pengasuh sekaligus Ketua Yayasan Pondok Pesantren Manbaul Hikam sempat menyampaikan usulan terkait perubahan tata kelola MBG kepada sejumlah pejabat pemerintah yang datang ke pesantren.

Dalam pertemuan tersebut, pesantren mengusulkan agar pengelolaan makanan MBG untuk santri dapat dilakukan langsung oleh lembaga pendidikan yang menerima manfaat.

Gus Wahid menyebut, sistem itu dapat dipelajari dari praktik di Malaysia dan Singapura, dengan makanan dikelola oleh lembaga pendidikan kemudian didistribusikan langsung kepada santri atau siswanya.

“Kami usulkan. Tolong kita nyoba belajar dari negara jiran seperti Malaysia dan Singapura, untuk dikelolakan kepada lembaga pendidikan yang menerima manfaat itu untuk selanjutnya langsung didistribusikan kepada santri dan anak-anak atau murid-muridnya,” ujarnya, saat on air di Radio Suara Surabaya, Rabu (9/9/2026).

Menurut Gus Wahid, sistem tersebut juga dinilai lebih fleksibel karena jumlah makanan dapat disesuaikan dengan jumlah penerima manfaat yang benar-benar aktif di sekolah.

Jika usulan tersebut disetujui pemerintah, Gus Wahid berharap pengelolaan MBG di pesantren dapat dilakukan langsung di bawah yayasan. “Jikalau di-ACC,” jawabnya ketika ditanya mengenai kemungkinan pengelolaan MBG langsung oleh yayasan.

Ia menilai pesantren memiliki pengalaman panjang dalam mengelola kebutuhan makanan para santri secara mandiri. Gus Wahid menegaskan, pihaknya tidak menolak program MBG yang merupakan program pemerintah.

Namun, pengalaman kasus yang terjadi menjadi alasan bagi pesantren untuk meminta perbaikan sistem tata kelola. “Kami tidak pernah menolak program pemerintah itu, enggak pernah menolak. Dengan catatan ke depan ini ada perbaikan sistem tata kelola,” tegasnya.(kir/bil/ipg)

Soerabaja10k
Berita Terkait


Potret NetterSelengkapnya

Kecelakaan Beruntun di Tol Waru Arah Perak

Truk Patah As Tutup Satu Jalur Benowo Surabaya

Sebelum Terbenam

Surabaya
Jumat, 11 September 2026
31o
Kurs