Selain Chabahar, Baqaei menyebut AS juga menyerang fasilitas listrik dan pompa desalinasi di dermaga Desa Bunji, Jask. Serangan itu disebut membuat lebih dari 10.000 orang kehilangan akses air minum.
“Bagi sebuah negara yang dulu menampilkan diri sebagai pembela tatanan global, liberalisme, dan perang melawan terorisme, mempertontonkan dengan bangga gambar jembatan dan infrastruktur sipil yang dihancurkan kini menjadi satu-satunya kemenangan yang tersisa,” kata Baqaei.
Menurut Baqaei, setiap jembatan, menara, dan fasilitas sipil yang runtuh tidak hanya menunjukkan kehancuran baja dan beton. Ia menilai, yang ikut runtuh adalah posisi moral AS, arsitektur hukum internasional, serta klaim peradaban Barat di mata dunia.
Jubir Kemlu Iran itu kemudian mempertanyakan perbedaan antara tindakan AS dan sekutunya di Chabahar, Minab, Lamerd, serta Jask dengan tindakan terorisme yang selama ini mereka gunakan sebagai alasan untuk perang dan pendudukan.
“Pertanyaan yang kini harus diajukan kepada Amerika dan sekutu-sekutunya sangat jelas dan sederhana: apa perbedaan nyata antara apa yang telah mereka lakukan di Chabahar, Minab, Lamerd, dan Jask, dengan tindakan terorisme yang dulu mereka gunakan untuk membenarkan perang dan pendudukan?” ucapnya. (bil/ham)

NOW ON AIR SSFM 100

