Minggu, 23 Agustus 2026

Iran Tak Mau Beri Konsesi ke AS, Pezeshkian Dorong Akhiri Ketegangan

Laporan oleh Muhammad Syafaruddin
Bagikan
Masoud Pezeshkian Presiden Iran. Foto: Time Magazine

Masoud Pezeshkian Presiden Iran menegaskan Teheran tidak berniat memberikan konsesi dalam menghadapi ketegangan dengan Amerika Serikat.

Ia juga mendorong upaya untuk mengakhiri kondisi yang disebutnya sebagai situasi “tidak perang, tidak damai” yang dinilai merugikan Iran.

Pernyataan itu disampaikan Pezeshkian pada Sabtu (22/8/2026), seperti dilaporkan kantor berita resmi Iran, IRNA.

Pezeshkian mengatakan para pejabat Iran hampir setiap hari membahas langkah untuk keluar dari ketidakpastian tersebut.

Menurutnya, solusi yang dicari harus tetap menjaga prinsip dan nilai-nilai Iran sekaligus mencegah pihak yang dianggap sebagai musuh kembali mempertimbangkan opsi serangan terhadap negaranya.

“Kita perlu keluar dari situasi ini tanpa mengorbankan kekuatan dan prinsip-prinsip Iran,” ujar Pezeshkian, seperti dikutip IRNA.

Menurut Pezeshkian, perang bukan jalan keluar untuk menyelesaikan persoalan. Namun, ketidakpastian mengenai kemungkinan pecahnya kembali konflik juga memberikan tekanan terhadap perekonomian Iran.

Ia menilai ancaman konflik baru dapat membuat investor enggan menanamkan modal di Iran. Karena itu, Teheran perlu mencari penyelesaian melalui pendekatan rasional untuk menciptakan kondisi yang lebih stabil tanpa mengurangi posisi Iran.

Dilansir dari Antara, Pezeshkian juga membela nota kesepahaman yang baru-baru ini dicapai Iran dan Amerika Serikat.

Ia menegaskan dokumen tersebut tidak berisi ketentuan yang dapat ditafsirkan sebagai penyerahan diri Iran ataupun kewajiban bagi Teheran untuk memberikan konsesi.

Iran dan Amerika Serikat menandatangani nota kesepahaman tersebut pada Juni melalui mediasi Pakistan dan Qatar.

Kesepakatan itu disebut mengakhiri permusuhan yang berlangsung sejak Februari sekaligus membuka peluang bagi kedua negara untuk melanjutkan negosiasi menuju kesepakatan final.

Namun, proses pembicaraan kemudian menghadapi hambatan. Perselisihan mengenai implementasi nota kesepahaman serta pengaturan pelayaran di Selat Hormuz menjadi salah satu persoalan yang membuat negosiasi terhenti.

Selat Hormuz merupakan jalur strategis bagi perdagangan energi global karena menjadi salah satu rute utama pengiriman minyak dan gas.

Ketidakpastian terkait jalur tersebut berpotensi menambah tekanan terhadap kondisi ekonomi dan geopolitik di kawasan. (ant/saf/ham)

Soerabaja10k
Berita Terkait


Potret NetterSelengkapnya

Evakuasi Kecelakaan Mobil Terguling di Gunungsari Surabaya

Truk Patah As Tutup Satu Jalur Benowo Surabaya

Sebelum Terbenam

Kecelakaan Beruntun di Gempol, Libatkan 7 Kendaraan

Surabaya
Minggu, 23 Agustus 2026
27o
Kurs