Kamis, 9 Juli 2026

Jatim Targetkan Kereta Komuter Mirip Jabodetabek Lewat SRRL Surabaya-Sidoarjo

Laporan oleh Wildan Pratama
Bagikan
Depo Sidotopo yang masuk dalam kajian proyek pembangunan SRRL, Kamis (9/7/2026). Foto: Humas Direktorat Jenderal Perkeretaapian Jatim

Pemerintah memastikan proyek Surabaya Regional Railway Line (SRRL) berjalan sesuai target. Proyek ini disiapkan untuk menghadirkan layanan kereta komuter di kawasan Surabaya Raya (Kota Surabaya, Sidoarjo dan Gresik) melalui pengembangan jalur ganda.

Untuk memastikan proyek berjalan sesuai linimasa, Direktorat Jenderal Perkeretaapian bersama Pemerintah Provinsi Jawa Timur (Jatim), Pemerintah Kota Surabaya, PT KAI, dan Bank Pembangunan Jerman atau KfW mengikuti High Level Meeting yang diselenggarakan Kementerian Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan di Surabaya, Kamis (9/7/2026).

Emil Elestianto Dardak Wakil Gubernur (Wagub) Jatim mengatakan, SRRL menjadi proyek penting karena jalur eksisting saat ini masih didominasi jalur tunggal. Kondisi itu membuat layanan komuter di wilayah Surabaya Raya belum berjalan optimal.

Wagub Jatim itu menargetkan layanan SRRL nantinya bisa mengadopsi konsep komuter di Jabodetabek, dengan dua jalur untuk mengoptimalkan layanan transportasi publik. “Layanan komuternya belum optimal, jika nanti jalur ganda layanannya dapat seperti konsep di Jabodetabek,” kata Emil.

Selain jalur ganda, Emil juga menyoroti pentingnya identifikasi kebutuhan pengembangan Depo Sidotopo seiring hadirnya SRRL. Menurutnya, hal itu dibutuhkan agar sistem jalur kereta dapat terintegrasi dalam jangka panjang. “Perlu sinkronisasi jangka panjang agar dapat terintegrasi,” jelasnya.

Sementara itu, Denny Michels Adlan Kepala Balai Teknik Perkeretaapian Kelas I Surabaya menjelaskan, proyek SRRL saat ini telah memasuki tahap Detail Engineering Design (DED). Tahap tersebut dikerjakan oleh Chodai, perusahaan asal Jepang.

Dalam tahap DED, pemerintah menghitung berbagai potensi kebutuhan proyek, mulai dari proyeksi permintaan penumpang hingga rancangan bangunan stasiun.

“Semuanya harus sesuai sampai tahapan konstruksi bahkan saat implementasi proyek,” kata Denny.

Denny menambahkan, sejumlah isu strategis terkait pengerjaan SRRL juga turut dibahas dalam pertemuan tersebut, termasuk pengadaan lahan dan persoalan teknis.

“Hasil DED ini akan sangat dibutuhkan oleh teman-teman operator untuk pengadaan sarana, apakah nantinya sarananya dari Jerman, atau Jepang, atau Korea, ini juga menjadi isu terkait jumlah sarananya,” ujarnya.

Ia memastikan evaluasi berkala akan terus dilakukan berdasarkan hasil monitoring, agar pengerjaan proyek SRRL tetap berjalan sesuai target waktu.

“Nantinya tiap tiga bulan akan ada evaluasi. Manakala nantinya ditemukan kendala, akan dapat diidentifikasi dan tindaklanjutnya seperti apa,” tandas Denny. (wld/bil/ham)

Soerabaja10k
Berita Terkait


Potret NetterSelengkapnya

Sepeda Motor Terbakar di Genteng Besar

Pelangi di Ujung Pagi Surabaya

Mobil Masuk Saluran Air

Perjalanan Menuju Arafah

Surabaya
Kamis, 9 Juli 2026
28o
Kurs