Pemerintah Provinsi Jawa Timur (Pemprov Jatim) bersama sejumlah instansi terkait terus mematangkan perencanaan pembangunan Surabaya Regional Rail Line (SRRL) tahap pertama berupa jalur ganda dan elektrifikasi kereta api yang menghubungkan Surabaya-Sidoarjo.
Emil Elestianto Dardak Wakil Gubernur Jatim menjelaskan progres proyek SRRL telah memasuki tahap detail engineering desain (DED) atau desain teknis yang disusun konsultan sejak Februari 2026 dan ditargetkan rampung tahun depan.
Dalam tahap desain, Emil menyebut konsultan masih melakukan pemetaan berbagai tantangan teknis di lapangan.
“Desain ini memang bukan hal yang mudah, mendesain double track dan elektrifikasi kereta. Biasanya di lapangan kita akan menemukan hal-hal baru, tantangan baru,” ujarnya usai menghadiri high level meeting di Surabaya, Kamis (9/7/2026).
Salah satu persoalan teknis yang sedang dikaji pemerintah adalah kebutuhan pembangunan depo kereta api yang terletak di Sidotopo. Berdasarkan informasi dari PT Kereta Api Indonesia, depo di Sidotopo membutuhkan penataan ulang karena terdapat lahan yang ditempati warga.
“Menurut informasi dari PT KAI, depo yang ada di Sidotopo ini memang ada lahan yang saat ini diduduki oleh warga, tapi ada juga yang kemudian memiliki perbedaan dalam kaitan dengan status tanah,” katanya.
Emil memastikan pihaknya dan pemerintah kota bakal mengedepankan kondisi masyarakat terdampak dalam menyelesaikan penataan wilayah tersebut.
Pada tahap awal, pemerintah akan mengoptimalkan lahan yang tersedia sembari melakukan kajian melalui program Reforma Agraria.
“Kami, saya, Pak (Eri Cahyadi) Wali Kota sama-sama harus mikirkan nasib warga yang ada di situ juga, nggak sekadar bicara alasan saja,” ujar Emil.
Wagub Jatim itu menyatakan desain teknis SRRL yang ditargetkan tuntas pada awal 2027 dan akan menjadi acuan bagi kontraktor pelaksana. Dalam fase pertama proyek SRRL ini memiliki nilai investasi sekitar 230 juta euro.
“Ditargetkan bahwa memang pada awal 2027 kita bisa punya desain yang siap untuk dijadikan acuan bagi kontraktor yang akan mengerjakan ini,” tuturnya.
Kemudian dalam tahap pertama pembangunan SRRL, persoalan infrastruktur pendukung juga menjadi perhatian. Terutama terkait perlintasan sebidang dan kebutuhan pembangunan jalan layang.
Emil menyebut kawasan Taman Pelangi menjadi salah satu titik yang diprioritaskan karena berhubungan dengan proyek flyover. Selain itu, sejumlah titik di Sidoarjo dan kawasan Wonokromo sedang dalam kajian.
“Wonokromo tanpa proyek ini pun sebenarnya sudah sumbatan botol, bottleneck karena Wonokromo itu dari 8 lajur di frontage, tiba-tiba jadi cuma 2 lajur. Ini ditambah lagi sekarang dengan adanya SRRL, maka yang dari Jagir ke arah Ahmad Yani juga harus diantisipasi,” jelasnya.
Wagub Jatim itu memastikan tim teknis terus melakukan pemetaan kondisi lapangan, termasuk kebutuhan depo dan titik-titik yang berpotensi menjadi kendala dalam realisasi proyek SRRL. “Banyak masalah-masalah teknis yang sudah dicarikan solusi,” tandasnya. (wld/bil/ham)

NOW ON AIR SSFM 100

