Senin, 8 Juni 2026

Keluarga Kenang Prof Johan Silas yang Tak Pernah Berhenti Berkarya hingga Usia 90 Tahun

Laporan oleh Billy Patoppoi
Bagikan
Prof. Johan Silas tokoh arsitektur Indonesia sekaligus pakar tata kota dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya. Foto: Istimewa

Pihak keluarga mengenang Prof. Johan Silas tokoh arsitektur Indonesia sekaligus pakar tata kota dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya yang meninggal pada, Senin (8/6/2026) dini hari, sebagai pribadi yang sangat aktif, produktif, dan selalu menanamkan nilai pengabdian kepada masyarakat.

Bahkan, di usianya yang ke-90 tahun, Prof Johan Silas masih aktif mengajar sebagai dosen, serta terlibat sebagai konsultan dan anggota Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) Surabaya.

“Karena itu sampai usia 90 tahun, Papa masih tetap bekerja sebagai dosen di UKDC. Papa masih sebagai komisaris di Yekape. Ya masih sering lagi diminta untuk konsultan juga sebagai cagar budaya,” ujar Ina Silas, putri mendiang Prof. Johan Silas saat on air di Radio Suara Surabaya, Senin (8/6/2026).

Ia kemudian mengenang motto sang ayah soal usia hanyalah angka. Menurut Ina, pesan tersebut bukan sekadar nasihat, melainkan benar-benar dijalani oleh sang ayah.

“Usia itu adalah angka. Kita sebetulnya usia tidak dapat membatasi sebuah kreativitas, sebuah pekerjaan,” kenang Ina soal ayahnya.

Ina mengatakan, selama hidupnya, sang ayah selalu mengajarkan bahwa bekerja bukan hanya soal mencari penghasilan atau mengejar jabatan, melainkan juga memberikan kontribusi bagi masyarakat.

Semangat untuk terus berkarya itu juga menjadi nilai yang selalu ditanamkan Prof Johan Silas kepada anak-anaknya.

“Intinya itu pokoknya kami itu didorong terus bekerja, melakukan sesuatulah ya. Enggak ada yang namanya pensiun itu harus berhenti 100 persen. Enggak ada kata pensiun gitu sebetulnya,” kata Ina.

Adapun sebelum berpulang, Prof Johan Silas sempat menjalani perawatan akibat gangguan kesehatan. Ina mengungkapkan sang ayah mengalami stroke pada awal tahun, kemudian kembali terserang stroke setelah menjalani operasi prostat.

“Memang Papa itu sudah sakit dari bulan Januari ya, ada stroke pertama. Lalu beberapa waktu yang lalu operasi prostat. Keluar dari rumah sakit operasi prostat kan terus Bapak kena stroke yang kedua sampai meninggal tadi pagi,” tuturnya.

Bagi keluarga, Prof Johan Silas bukan hanya seorang ayah bagi lima anak kandungnya. Sosoknya juga menjadi panutan bagi banyak orang yang pernah belajar dan bekerja bersamanya. “Kalau mau dibilang makanya anaknya Papa itu bukan cuman lima. Tapi satu ITS. Satu ITS. Satu Pemkot,” ujar Ina.

Ia mengatakan banyak mahasiswa, akademisi, hingga pegawai Pemerintah Kota Surabaya yang menganggap Prof Johan Silas sebagai figur ayah sekaligus mentor. “Jadi saya memiliki saudara yang begitu banyak sekali di Surabaya,” katanya.

Sementara itu, keluarga juga menyampaikan rencana penghormatan terakhir bagi mendiang. Saat ini jenazah Prof Johan Silas berada di Rumah Duka Adi Jasa Surabaya. Rencananya, baru akan disemayamkan pada hari, Rabu (10/6/2026), karena menunggu kedatangan dua anggota keluarga yang masih berada di Prancis.

“Kami masih menunggu dua kakak yang dari Prancis untuk bisa datang ke Surabaya. Jadi Rabu itu rencananya mungkin sekitar jam 12-an siang itu sudah siap untuk menerima teman-teman yang ingin memberikan penghormatan terakhir untuk Papa,” katanya.

Setelahnya, prosesi kremasi akan dilaksanakan pada, Sabtu (13/6/2026) mendatang di TPU Keputih Surabaya. “”Rencana Papa akan yang kami kremasikan di hari Sabtu. Rencananya mungkin Sabtu siang. Cuman jadwal masih belum dapat saya bagikan ya,” ujar Ina.

Kepergian Prof Johan Silas jadi  kehilangan besar bagi dunia akademik, arsitektur, tata kota, dan pelestarian cagar budaya di Indonesia. Selama puluhan tahun, namanya dikenal luas sebagai salah satu pemikir perkotaan yang konsisten mendorong pembangunan kota, yang berpihak kepada masyarakat serta pelestarian kawasan bersejarah.

Selain aktif sebagai akademisi ITS Surabaya, Prof Johan Silas juga terlibat dalam berbagai kajian dan kebijakan pembangunan perkotaan di tingkat lokal maupun nasional. Di Surabaya, ia dikenal sebagai salah satu anggota Tim Ahli Cagar Budaya yang berperan dalam upaya menjaga dan melestarikan bangunan serta kawasan bersejarah. (bil/ham)

Berita Terkait


Potret NetterSelengkapnya

Mobil Masuk Saluran Air

Perjalanan Menuju Arafah

Gerbang King Abdulaziz Masjidil Haram

Abraj Al Bait, Makkah Royal Clock Tower

Surabaya
Senin, 8 Juni 2026
31o
Kurs