Akibatnya, diagnosis bisa terlambat dan penularan berpotensi terus terjadi. Terlebih, hampir 40 persen lansia di Indonesia tinggal bersama tiga generasi, sehingga mereka dapat menjadi sumber penularan utama bagi anak-anak di rumah.
Imran menambahkan, lansia juga lebih rentan terhadap efek samping obat TB sehingga membutuhkan pemantauan lebih intensif.
Karena itu, strategi deteksi aktif di posyandu lansia, panti wreda, dan layanan primer perlu diperkuat. Tenaga kesehatan juga harus mendapat pelatihan untuk mengenali TB pada usia lanjut dan mengelola polifarmasi dengan aman.
Menurut Imran, layanan berbasis komunitas terbukti lebih efektif membangun kepercayaan, meningkatkan penemuan kasus, dan menjaga pasien tetap menjalani pengobatan.
Pemerintah dan mitra, kata dia, perlu mengakui peran vital komunitas dengan menyediakan pendanaan berkelanjutan, serta memastikan rantai pasok dan data berjalan stabil.

NOW ON AIR SSFM 100

