Sabtu, 18 Juli 2026

Konflik AS-Iran Meluas, Sejumlah Negara Teluk Jadi Sasaran Serangan

Laporan oleh Billy Patoppoi
Bagikan
Ilustrasi serangan rudal yang dilancarakan Iran. Foto: AP News/ Al Jazeera

Konflik Amerika Serikat (AS) dan Iran semakin meluas ke kawasan Teluk setelah Teheran melancarkan serangan ke sejumlah negara di kawasan tersebut pada, Jumat (17/7/2026) pagi.

Sejumlah laporan menyebut Bahrain, Irak, Kuwait, Oman, Qatar, Yordania, dan Suriah terpaksa mengambil langkah pertahanan menghadapi rudal dan drone Iran. Serangan itu terjadi saat militer AS memasuki malam keenam serangan terhadap Iran.

Melansir Al Jazeera, Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) kemudian mengklaim bertanggung jawab atas serangan terhadap sejumlah aset militer AS di kawasan tersebut. Iran menyebut serangan itu menargetkan fasilitas AS yang berada di negara-negara Teluk dan wilayah sekitarnya.

Teheran menyebut, Washington menggunakan pangkalan militernya di kawasan itu sebagai titik peluncuran serangan terhadap Iran. Sebelumnya, serangan udara AS menargetkan sejumlah infrastruktur di wilayah selatan Iran pada, Kamis (16/7/2026) malam hingga Jumat, termasuk jaringan telekomunikasi, sistem perkeretaapian, dan Jembatan Bandar-e Khamir di Provinsi Hormozgan. Media Iran melaporkan sedikitnya delapan orang meninggal dalam serangan terbaru itu.

Di Qatar, tingkat ancaman keamanan sempat dinaikkan setelah terdengar ledakan keras di sejumlah wilayah Doha pada Jumat dini hari. Sirene peringatan berbunyi dan warga menerima peringatan keamanan melalui ponsel mereka.

IRGC mengklaim menyerang Pangkalan Udara Al Udeid yang berada di luar Doha. Pangkalan tersebut menjadi salah satu fasilitas militer terbesar AS di kawasan Teluk. Namun, AS maupun Qatar belum mengonfirmasi apakah pangkalan itu benar-benar terkena serangan Iran.

Pemerintah Qatar sebelumnya berulang kali menyatakan bahwa Pangkalan Al Udeid tidak digunakan AS untuk melancarkan serangan terhadap Iran. Kementerian Dalam Negeri Qatar menyebut seorang anak terluka akibat serpihan yang jatuh saat serangan Iran dan sudah mendapatkan perawatan medis.

Di Kuwait, otoritas setempat mengonfirmasi serangan Iran menghantam pembangkit listrik dan fasilitas desalinasi air. Kementerian Listrik, Air, dan Energi Terbarukan Kuwait menyatakan serangan itu memicu kebakaran dan merusak banyak unit pembangkit listrik.

Api dilaporkan sudah berhasil dipadamkan. Tim teknis masih menilai kerusakan dan berupaya memulihkan pasokan listrik ke unit-unit yang terdampak. Warga dan penduduk Kuwait juga diminta menghemat penggunaan listrik hingga ada pemberitahuan lebih lanjut.

Kerusakan pada fasilitas desalinasi menjadi perhatian serius karena sekitar 90 persen pasokan air Kuwait berasal dari instalasi desalinasi. Jika kerusakan meluas, dampaknya dikhawatirkan bisa mengganggu kebutuhan air warga.

IRGC juga mengklaim menyerang pangkalan militer AS di Kuwait. Serangan itu disebut menargetkan radar pertahanan rudal, sejumlah gudang senjata penting, dan dua peluncur rudal permukaan ke permukaan HIMARS.

Di Bahrain, militer Iran menyebut telah menargetkan helikopter dan pesawat pengintai AS di Pangkalan Udara Sakhir. Sementara di Oman, IRGC mengklaim menghancurkan radar kontrol udara AS di wilayah Ghanim utara serta radar pengawasan maritim di sekitar Selat Hormuz.

IRGC juga menegaskan Selat Hormuz tetap berada dalam kendali Angkatan Laut IRGC. Jalur pelayaran strategis itu menjadi salah satu titik paling sensitif dalam eskalasi terbaru antara AS dan Iran.

Di Irak utara, pasukan kontraterorisme Kurdi melaporkan pasukan koalisi AS menembak jatuh delapan drone peledak di atas Kota Erbil. Tidak ada korban jiwa dalam insiden tersebut.

Sementara itu, militer Yordania menyatakan sistem pertahanan udaranya menembak jatuh tiga rudal Iran yang melintas di wilayah udara negara itu pada Jumat pagi. Tidak ada korban jiwa, sedangkan tim teknik menangani puing rudal yang jatuh.

IRGC juga mengklaim menyerang pusat komando operasi khusus AS di Pangkalan Militer al-Tanf, Suriah. Namun, Komando Pusat AS atau CENTCOM membantah klaim tersebut dan menyebutnya tidak benar.

Di tengah eskalasi yang meluas, sejumlah negara kembali mendorong AS dan Iran kembali ke meja perundingan. China dan Pakistan menyerukan gencatan senjata segera serta dimulainya kembali dialog untuk menyelamatkan kesepakatan sementara yang dicapai bulan lalu.

Wang Yi Menteri Luar Negeri China menyebut kesepakatan tersebut diperoleh dengan susah payah. Ia mengingatkan semua pihak agar tidak kehilangan peluang perdamaian yang sudah terbuka.

Iran menyatakan sedikitnya 38 orang meninggal dan lebih dari 400 lainnya terluka akibat serangan AS sejak kedua pihak bertemu di Swiss pada 22 Juni untuk membahas penghentian perang melalui masa negosiasi 60 hari. (bil/iss)

Soerabaja10k
Berita Terkait


Potret NetterSelengkapnya

Sepeda Motor Terbakar di Genteng Besar

Pelangi di Ujung Pagi Surabaya

Mobil Masuk Saluran Air

Perjalanan Menuju Arafah

Surabaya
Sabtu, 18 Juli 2026
31o
Kurs