Laporan pendengar Radio Suara Surabaya (SS) dinilai membantu mempercepat respons Command Center (CC) 112 Kota Surabaya, dalam menangani berbagai kejadian kedaruratan di Kota Pahlawan.
Command Center 112 mengintegrasikan sembilan organisasi perangkat daerah (OPD) untuk menangani berbagai jenis kedaruratan, mulai kesehatan, kebakaran, lalu lintas, ketertiban, genangan hingga persoalan sosial.
Irvan Widyanto Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Surabaya mengatakan, informasi dari pendengar SS kerap jadi salah satu pintu masuk awal bagi petugas untuk mengetahui adanya kejadian, mulai dari pohon tumbang hingga kondisi darurat lainnya.
“Kita ini sebetulnya sangat terbantu dengan SS ya. Kita itu sering saling mendapatkan info dari Suara Surabaya. Jadi kan lebih banyak lebih mudah,” kata Irvan waktu on air di program Talkshow Semanggi Suroboyo di Radio Suara Surabaya, Jumat (11/9/2026).

Menurutnya, kebanyakan warga Surabaya terbiasa untuk lebih dulu menyampaikan laporan pandangan mata ke Suara Surabaya, sebelum informasi tersebut kemudian diteruskan ke Command Center.
“Artinya gini, ketika seperti saya naik sepeda, kemudian saya melihat di Mayjen Sungkono ada pohon tumbang, maka yang di dalam pikiran warga Kota Surabaya ini jangan keliru loh, itu ke SS (dulu) loh. Laporan pandangan mata. Nah, kemudian SS menginfo ke Command Center,” ujarnya.
Pola itu, menurut Kepala BPBD sangat membantu, karena informasi dapat segera diteruskan langsung ke petugas. Karenanya, Command Center sering berkolaborasi dengan Suara Surabaya dalam merespon penanganan kedaruratan.
Kolaborasi itu juga tidak hanya sebatas pertukaran informasi. Irvan juga mengakui, metode menerima dan mendata laporan warga yang digunakan Command Center kini turut mengadopsi pola yang sebelumnya dipelajari dari Suara Surabaya.
Target Waktu Respon Ditingkatkan
Irvan mengatakan target waktu respons Command Center juga terus ditingkatkan di pemerintahan Eri Cahyadi Wali Kota Surabaya. Jika pada awal pembentukannya pada 2016 lalu di era Tri Rismaharini menjabat Wali Kota ditargetkan maksimal 10 menit, kini waktu response dipatok tujuh menit.
“Kemudian untuk kebakaran itu bahkan 6,5 menit. Itu response time-nya dan yang filosofinya diharapkan bahwa ketika setiap warga Kota Surabaya ini membutuhkan bantuan, maka bisa menghubungi kita call 112, dan diharapkan kita bisa merespon dengan cepat, dan kemudian warga merasa terlayani dengan baik. Itu sebetulnya filosofinya,” jelasnya.
Untuk mempermudah warga mengirimkan laporan, Pemkot Surabaya juga membuka layanan WhatsApp CC 112 melalui nomor 081131112112. “Di situ juga kita targetkan tidak hitungan menit, tapi hitungan detik untuk bisa merespons,” ujar Irvan.
Selain memperkuat sistem komunikasi, Pemkot juga menambah jumlah pos terpadu agar petugas dapat lebih cepat menjangkau lokasi kejadian. Dari sebelumnya tujuh pos terpadu, tahun ini jumlahnya ditambah menjadi 10 pos dan ditargetkan menjadi 13 pos pada tahun depan.
“Dulunya ada tujuh pos terpadu. Tahun ini ditambahkan tiga posko lagi menjadi 10 dan target tahun depan ditambah tiga posko lagi menjadi 13,” katanya.
Pada kesempatan yang sama, Linda Novanti Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Kota Surabaya menambahkan, petugas juga menggunakan jaringan CCTV untuk memvalidasi laporan sekaligus membantu menentukan kondisi di lokasi sebelum tim tiba.
“Jadi memang CCTV sangat membantu. CCTV adalah bagian dari pemantauan kota, pemantauan kejagaaan-kejagaaan. Sehingga itu memang ada dan dimanfaatkan,” bebernya.
Command Center, kata dia, secara rutin memantau 222 titik CCTV. Selain itu, petugas juga dapat mengakses jaringan CCTV milik Dinas Perhubungan yang jumlahnya mencapai 2.949 titik di seluruh Surabaya.
“Yang diakses situation room itu 222 titik CCTV yang selalu dipantau. Tetapi jumlah CCTV di Surabaya ada hampir 3.000,” kata Linda.
Menurut Linda, teknologi tersebut juga membantu memeriksa kebenaran laporan warga. Ia mencontohkan pernah ada laporan pembegalan yang setelah dicek melalui CCTV ternyata tidak terjadi. Meski demikian, laporan palsu disebut jumlahnya relatif kecil. “Untuk yang telepon seperti itu tidak banyak, mungkin total enggak sampai lima persen,” katanya. (bil/ipg)

NOW ON AIR SSFM 100

