Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya pada, Selasa (21/4/2026) lalu, resmi meluncurkan program Medical Tourism yang bertujuan membawa Kota Pahlawan bersaing secara internasional dalam layanan kesehatan.
Tak tanggung-tanggung, lewat program itu, Surabaya membidik posisi sebagai sentra rujukan medis utama bagi masyarakat di wilayah Indonesia Timur, agar tidak lagi bergantung pada layanan kesehatan di luar negeri.
Terkait hal ini, dr. Atiek Tri Arini Kabid Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Kota Surabaya mengatakan, saat ini kualitas layanan medis Surabaya sangat memadai untuk meraih hal tersebut.
“Jadi masyarakat, terutama Surabaya ini kan center-nya ya, centernya wilayah (Indonesia) Timur. Jadi yang mulai dari Irian sampai dengan Kalimantan, Sulawesi itu kita berharap bisa mengakses pelayanan kesehatannya ya di Kota Surabaya tidak lagi melirik ke luar negeri begitu,” ujar dr. Atiek dalam program Semanggi Surabaya di Radio Suara Surabaya, Jumat (24/4/2026).

Atiek mengatakan, program Medical Tourism sendiri adalah komitmen Eri Cahyadi Wali Kota Surabaya agar fasilitas kesehatan (faskes) lokal mampu bersaing dengan standar internasional. Harapannya, warga Surabaya dan sekitarnya merasa bangga dan percaya pada rumah sakit di kotanya sendiri.
“Bapak Walikota mencanangkan Medical Tourism yang kemarin kita launching ya bersama di tanggal 21 April 2026 kemarin, di mana seluruh faskes di Kota Surabaya terutama rumah sakit ini menjadi tuan rumah di rumahnya sendiri begitu,” jelas dr. Atiek.
BACA JUGA: Pemkot Surabaya Luncurkan Medical Tourism, Target Hingga 1.000 Pasien
BACA JUGA: 8 Rumah Sakit di Surabaya Sudah Tersertifikasi Standar Internasional, 3 Milik Pemerintah
Ia memastikan bahwa saat ini kualitas pelayanan medis di Surabaya sudah terstandardisasi secara internasional, sehingga tidak ada alasan lagi bagi masyarakat untuk mencari pengobatan ke luar negeri.
Lebih rinci, dia menyebut dari total 68 rumah sakit yang beroperasi di Surabaya, delapan di antaranya sudah tersertifikasi memiliki standar layanan internasional guna menarik pasien domestik maupun mancanegara.
“Rumah sakit di Kota Surabaya totalnya ada 68 rumah sakit. Yang sudah tersertifikasi untuk Medical Tourism ini ada delapan rumah sakit. Tiga di antaranya rumah sakit pemerintah, lima di antaranya adalah rumah sakit swasta begitu. Yang milik pemerintah itu Rumah Sakit dr. Soewandi, Rumah Sakit dr. Soetomo, dan Rumah Sakit Unair,” jelas dr. Atiek.
Untuk memastikan kenyamanan dan keselamatan pasien, Dinas Kesehatan Surabaya mewajibkan rumah sakit yang tergabung dalam program ini memiliki standar akreditasi tertinggi. Hal ini dilakukan agar persepsi masyarakat terhadap layanan kesehatan dalam negeri meningkat.
“Paling tidak harus terakreditasi paripurna begitu ya. Kalau sudah paripurna ini bisa terstandarisasi internasional ya terutama rumah sakit-rumah sakit milik pemerintah ini yang harus menjadi konsen kita bersama juga,” ucapnya.
Lewat dukungan anggaran yang menjadi prioritas utama Pemkot dan capaian Universal Health Coverage (UHC) yang hampir 100 persen, Surabaya optimis transformasi layanan kesehatan ini akan berdampak langsung pada peningkatan angka harapan hidup masyarakat yang kini berada di angka 74 tahun.
“Angka harapan hidup Kota Surabaya ini kan sudah sangat tinggi ya, sudah di angka 74 (tahun) gitu. Otomatis layanan kesehatan yang di Kota Surabaya ini harus benar-benar kita pastikan memenuhi kebutuhan masyarakat di Kota Surabaya, terstandarisasi, dan berkualitas tentunya,” tambahnya. (bil/iss)
NOW ON AIR SSFM 100
