Selasa, 21 April 2026

Pemkot Surabaya Luncurkan Medical Tourism, Target Hingga 1.000 Pasien

Laporan oleh Meilita Elaine
Bagikan
Eri Cahyadi Walikota Surabaya saat sambutannya dalam acara Launching Medical Tourism dan Bakti Sosial Terintegrasi di Balai Kota Surabaya, Selasa (21/4/2026). Foto: Fauzan Mg suarasurabaya.net

Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya meluncurkan Medical Tourism dengan menggandeng 8 rumah sakit yang mendapat sertifikasi dari Kementerian Kesehatan.

Eri Cahyadi Wali Kota Surabaya menyebut, akan berkolaborasi dengan biro perjalanan dan wisata untuk mempromosikan paket berobat sekaligus wisata.

“Kalau orang ingin berobat yang ada di Surabaya di Medical Tourism ini tinggal dia memilih, maka dia sudah nanti akan ada dijemput dari bandara menuju ke rumah sakit sampai dia hotelnya nginep di mana itu sudah menjadi satu paket. Ini yang nanti kita akan masifkan kembali,” bebernya, Selasa (21/4/2026).

Medical Tourism ini katanya bukti bahwa Surabaya bisa menangani pengobatan seperti luar negeri.

Pengunjung saat mencoba salah satu fasilitas Rumah Sakit Universitas Airlangga Surabaya, Selasa (21/4/2026). Foto: Fauzan Mg suarasurabaya.net

“Mangkanya Surabaya ini akan menjadi bagian dari kota untuk kesehatan. Semoga ini bisa memberikan kepercayaan kepada warga Indonesia tidak ke luar negeri, tapi cukup datang ke Indonesia khususnya di Kota Surabaya,” ungkapnya.

Ia berharap, rumah sakit lain bisa menyusul mendapatkan sertifikasi Kemenkes agar banyak pilihan Medical Tourism di Surabaya.

Target awal, akan ada 500 hingga 1.000 pasien selama beberapa bulan kedepan.

“Dan semoga itu bisa tercapai karena kita bisa melihat sudah banyak dari Indonesia Timur, dari internasional, dari luar negeri yang sudah ada datang ke Surabaya,” bebernya.

Dengan adanya layanan ini, ia mendorong adanya integrasi data rekam medis untuk pelayanan warga Surabaya.

Ia menginstruksikan dinkes dan seluruh direktur rumah sakit membentuk komunitas dalam memetakan sebaran penyakit di wilayah Surabaya.

“Saya butuh data by name, by address. Jika ada warga yang terjadwal kontrol tetapi tidak hadir, pemerintah yang harus turun ke rumahnya untuk memberikan obat atau tindakan. Kita tidak ingin warga yang sakit, apalagi yang tidak mampu, kesulitan transportasi untuk sekadar kontrol ke rumah sakit,” tegasnya.

Sementara Dokter Billy Daniel Messakh Kepala Dinas Kesehatan Kota Surabaya merinci 8 rumah sakit itu RSUD Dr Soetomo, RSUD Dr Soewandhi, RS Unair, RS Husada Utama, RS Primier Surabaya, RS Siloam, RS Ubaya, dan RS Katolik St. Vincentius a Paulo (RS RKZ), yang masing-masing memiliki layanan unggulan seperti penanganan jantung, terapi khusus, hingga kesehatan perempuan dan anak.

Teknis layanan, pasien cukup menghubungi pihak rumah sakit atau biro perjalanan yang bekerjasama untuk menentukan layanan yang akan dijalankan.

“Misalnya, pasien dijemput langsung di Bandara Juanda menggunakan ambulans sesuai protokol, langsung menuju rumah sakit hingga dinyatakan sembuh. Setelah masa pemulihan, pasien maupun keluarga diberikan fasilitas untuk menikmati destinasi wisata di Surabaya sebelum kembali ke daerah asal,” ujar Dokter Billy.

Terkait persaingan harga dengan destinasi medis luar negeri seperti Malaysia atau Singapura, dr. Billy menegaskan, Surabaya memiliki keunggulan kompetitif yang signifikan. Selain memangkas biaya transportasi internasional dan akomodasi yang mahal, tarif medis di Surabaya tetap mengacu pada peraturan daerah (Perda).

“Kalau dibandingkan dengan Malaysia atau Singapura, kita jauh lebih murah. Perbandingannya, jika di sana 100 persen, di sini mungkin hanya 75 persen nya. Jadi bisa hemat sekitar 25 persen dengan kualitas dokter yang tidak kalah hebat,” paparnya. (lta/ipg)

Berita Terkait

Potret NetterSelengkapnya

Perbaikan Pipa PDAM Bocor di Jemursari

Kebakaran Rusunawa Sombo Surabaya

Kebakaran Rumah di Pengampon Surabaya

Surabaya
Selasa, 21 April 2026
28o
Kurs