“Perempuan memiliki kebutuhan biologis yang tetap berlangsung dalam bencana. Menstruasi, kehamilan, persalinan, menyusui, dan kebutuhan kesehatan reproduksi tidak berhenti ketika terjadi bencana,” ucapnya.
Kondisi darurat itu, lanjut dia, menjadi lebih sulit karena keterbatasan akses terhadap air bersih, toilet, ruang privat, perlengkapan kebersihan, maupun layanan kesehatan yang dapat mengurangi rasa aman dan martabat perempuan di lokasi pengungsian.
Oleh karena itu, ia mengatakan bahwa pembalut dan popok seharusnya tidak ditempatkan sebagai bantuan tambahan, melainkan menjadi bagian dari kebutuhan dasar dalam respons kebencanaan.
“Pembalut dan popok seharusnya masuk dalam bantuan dasar korban bencana, termasuk di NTT. Ini bukan hanya soal kenyamanan, tetapi menyangkut kesehatan, kebersihan, martabat, dan perlindungan kelompok rentan,” ucapnya.
Selain kebutuhan perempuan, perhatian khusus juga diberikan kepada anak-anak dengan menyumbang boneka. Ia menjelaskan boneka bukan semata-mata sebagai mainan, tetapi juga bagian dari dukungan psikososial anak yang mengalami situasi traumatis akibat bencana.

NOW ON AIR SSFM 100

