Ratusan mahasiswa Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya (UINSA) menolak penetapan Akhmad Muzakki sebagai rektor baru periode 2026-2030 dalam aksi demonstrasi di UINSA Kampus A Yani, Surabaya, Rabu (16/9/2026).
Aksi tersebut digelar sehari setelah Akh Muzakki dilantik Nasaruddin Umar Menteri Agama (Menag) sebagai Rektor UINSA periode 2026-2030 di Kantor Kementerian Agama, Jakarta, Selasa (15/9/2026).
Fadlurrakhman Fazle Purwardana Wakil Presiden BEM UINSA mengatakan, mahasiswa meminta Akh Muzakki mengundurkan diri atau diturunkan dari jabatan rektor.
“Kami menolak dan mengecam, dan kami juga ingin menurunkan secara hormat, secara pribadi, dari Prof Muzakki ini kemudian turun jadi Rektor UIN Sunan Ampel Surabaya,” kata Fadlurrakhman.

Mahasiswa menyoroti sejumlah kebijakan dan pola kepemimpinan Akh Muzakki selama menjabat rektor periode sebelumnya, yang menurutnya cenderung otoriter dan diktator.
Ia juga mengklaim terdapat keberatan dari sejumlah dosen terhadap kebijakan rektor, namun enggan menyuarakan keberatan secara terbuka karena mempertimbangkan karier mereka.
“Yang kami nilai beliau ini sangat otoriter dan sangat diktator. Banyak keberatan dari dosen-dosen utamanya yang kemudian sampai aspirasinya ke mahasiswa karena takut untuk menyuarakan, karena yang dipertaruhkan adalah karir kalau dosen,” ujarnya.
Ia mencontohkan, sebelumnya asa persoalan pergantian pimpinan fakultas yang dilakukan secara sepihak. Selain itu, mahasiswa menyoroti kebijakan penggunaan fasilitas kampus yang membebani kegiatan organisasi mahasiswa.
Di era kepemimpinan Muzaaki, ia mengeluhkan bahwa mahasiswa harus mengeluarkan dana untuk menyewa tempat seperti Sport Center ketika menggelar kegiatan. Menurutnya, sebagian penghasilan kegiatan organisasi mahasiswa juga harus diserahkan kepada Pusat Bisnis UINSA.
“Makanya ini kan jelas sekali adanya komersialisasi pendidikan. Kebijakan-kebijakan beliau yang kemudian nir empati terhadap mahasiswa. Itu yang kemudian meresahkan kami,” katanya.
Selain persoalan kebijakan kampus, mahasiswa juga menyoroti dugaan kasus suap atau gratifikasi yang berkaitan dengan Kopertais Wilayah IV Jawa Timur dan menyeret nama Akh Muzakki sebagai Koordinator Kopertais.
“Beliau yang saat ini juga dilaporkan dalam dugaan kasus pungli atau suap di Kopertais Wilayah IV, ini membuat kami semakin tersadar, semakin terbuka untuk melakukan aksi ini,” ujarnya.
Mahasiswa berharap Muzakki hadir dan berdialog langsung dengan massa aksi. Namun, menurut informasi yang diterima mahasiswa, Muzakki sedang berada di Jombang bersama Dirjen Kementerian Agama.
“Kami akan tetap bertahan dan kita akan tetap bergandengan untuk berjaga sampai beliau datang,” katanya.
Seperti diketahui, dalam aksi tersebut, mahasiswa menyampaikan sejumlaj tuntutan. Di antaranya meminta Muzakki mundur dari jabatan rektor, meminta pimpinan UINSA memberikan pernyataan publik mengenai keterbukaan informasi, serta mendesak pengusutan kasus Kopertais.
Mahasiswa juga menuntut adanya kejelasan terkait keterlambatan pembagian buku, Kartu Tanda Mahasiswa (KTM), dan almamater mahasiswa baru.
Selain itu, mereka meminta pertanggungjawaban terkait jumlah penerimaan mahasiswa baru yang dinilai berdampak pada keterbatasan fasilitas kampus, penghapusan kebijakan jam malam, evaluasi penentuan UKT mahasiswa baru, serta penghapusan mekanisme peminjaman tempat yang dinilai menyulitkan.(ris/kir)

NOW ON AIR SSFM 100

