Sebagian besar pengemudi ojek online (ojol) perempuan yang dapat pendampingan dari Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya berstatus kepala keluarga atau single parent.
Hal itu disampaikan Ida Widayati Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak serta Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3A-PPKB) Kota Surabaya saat mengisi program talkshow Semanggi Suroboyo di Radio Suara Surabaya, Jumat (31/7/2026).
Ida mengatakan, saat ikut pelatihan pemberdayaan, para Srikandi jalan itu tetap harus mendapatkan penghasilan setiap hari untuk menghidupi keluarganya. Hal itu menurutnya jadi tantangan terbesar program pemberdayaan.
“Yang saya intervensi ini sebagian besar adalah perempuan kepala keluarga. Jadi namanya Perempuan (orang tua) tunggal begitu kan. Nah, ini mereka semangat untuk mendapatkan uang tiap hari, itu harus dilakukan begitu. Nah, ini memang yang agak menghambat dari pelatihan pelatihan-pelatihannya kita berikan,” ujar Ida.

Pemkot mencatat, dari 22 ribuan driver ojol di Surabaya, 1.008-nya adalah perempuan dan telah terdata secara by name by address. Untuk mengurangi waktu kerja mereka di jalan, Pemkot memberikan sejumlah pelatihan, mulai dari memasak, tata rias, menjahit, membatik, hingga keterampilan lain yang dapat dikerjakan dari rumah.
Meski demikian, selama mengikuti pelatihan, mereka kehilangan kesempatan menarik penumpang maupun orderan. Hal itu yang menurut Ida, membuat sebagian ojol perempuan sulit meninggalkan pekerjaan utama mereka untuk fokus ke pelatihan.
Apalagi, hasil dari pelatihan masih butuh proses sebelum bisa menjadi uang. Beda dengan pendapatan sebagai ojol yang dapat langsung diterima setelah orderan selesai. Kondisi itu yang membuat pekerjaan di jalan tetap menjadi pilihan paling realistis bagi perempuan kepala keluarga.
“Salah satu faktornya adalah kalau ojol itu dia setiap hari langsung dapat uang begitu kan. Nah, kalau kegiatan yang sudah kita latih itu kan pasti butuh proses. Umpamanya kita kasih rombong, jualan kan enggak langsung laku,” kata Ida.
Ia membeberkan pada tahun lalu, DP3A-PPKB telah mendampingi sekitar 150 ojol perempuan melalui kelas memasak, tata rias, MUA, serta pemeriksaan kesehatan reproduksi. Sementara hingga Agustus tahun ini, diperkirakan pesertanya ada sebanyak 100 orang yang ikut pendampingan/pemberdayaan.
Meski telah mendapatkan pelatihan dan sarana usaha, sebagian peserta belum mampu mempertahankan kegiatan ekonomi barunya secara konsisten. Bantuan rombong maupun mesin jahit dalam beberapa kasus, justru tidak digunakan dalam jangka panjang karena usaha belum langsung memberikan penghasilan.
“Tidak serta-merta setelah kita lakukan pelatihan kemudian mereka bisa lepas dengan peningkatan ekonominya signifikan. Butuh proses dan waktu dan itu butuh semangat, semangatnya teman-teman ojol perempuan ini untuk bisa berjuang,” jelasnya.
Karenanya, Agus Hebi Djuniantoro Kepala Dinas Perindustrian dan Tenaga Kerja (Disperinaker) Kota Surabaya mengatakan, ke depan, program pemberdayaan akan disusun lebih terintegrasi. Jadwal pelatihan menyesuaikan waktu kerja peserta, misalnya digelar pada malam hari setelah mereka selesai menarik penumpang.
“Sebetulnya tidak hanya intervensi itu (tantangannya), tidak hanya pelatihan itu saja, tetapi yang lainnya ya opo carane (gimana caranya) orang ini tetap bisa mendapatkan penghasilan, tetapi dia juga mendapatkan ilmu untuk berkarya selain ojek gitu,” bebernya pada kesempatan yang sama.
Selain usaha, Pemkot turut mempertimbangkan pelatihan di sektor jasa, seperti tenaga kebersihan rumah tangga dan hotel. Peserta yang berminat dapat mengikuti pelatihan, sertifikasi, hingga magang berbayar sebelum diarahkan ke lapangan kerja yang tersedia.
Pemkot juga menilai pemberian bantuan tidak bisa dilakukan secara parsial. Pelatihan, sarana usaha, pemasaran, evaluasi pendapatan, dan pendampingan harus dilakukan secara terintegrasi agar program tidak menambah beban para ojol perempuan yang menjadi tulang punggung keluarga. (bil/ipg)
NOW ON AIR SSFM 100

