Nasaruddin Umar Menteri Agama (Menag) mendorong para santri tidak hanya menguasai ilmu agama, tapi juga mendalami berbagai bidang keilmuan, mulai dari teknologi, kedokteran, hingga ilmu pengetahuan lainnya.
Menurutnya, perkembangan zaman menuntut pesantren meningkatkan kualitas pendidikan agar mampu melahirkan generasi yang berkontribusi di berbagai bidang kehidupan.
“Kalau dalam masa penjajahan, masa perjuangan fisik, yang lahir adalah para jenderal, tapi dalam suasana damai seperti sekarang ini, yang harusnya lahir banyak adalah para profesor, para kiai-kiai besar,” ujar Nasaruddin dalam acara Munajat Santri untuk Negeri di Masjid Istiqlal, Jakarta, Jumat (30/10/2026), yang dilansir Antara.
Menag mencontohkan Baitul Hikmah, pusat perkembangan ilmu pengetahuan dalam sejarah peradaban Islam, sebagai inspirasi bagi pengembangan pendidikan pesantren di Indonesia.
Baitul Hikmah didirikan pada masa Khalifah Harun Ar-Rasyid dan berkembang pada masa Khalifah Al-Ma’mun. Pada masa itu, para ilmuwan dari berbagai latar belakang, termasuk lintas agama, berkumpul untuk mengembangkan beragam disiplin ilmu.
Menurut Nasaruddin, tradisi keilmuan tersebut menunjukkan bahwa pendidikan Islam memiliki sejarah panjang dalam pengembangan ilmu pengetahuan. Karena itu, santri juga diharapkan tidak membatasi diri hanya pada satu bidang keilmuan.
“Kita ingin juga nanti santri-santri kita itu seperti yang pernah dicetak di Baitul Hikmah,” katanya.
Nasaruddin menilai pesantren memiliki potensi besar untuk melahirkan generasi unggul karena tidak hanya memberikan pendidikan keilmuan, tetapi juga membentuk karakter, keimanan, dan akhlak para santri.
Karena itu, ia mengajak para pengelola pesantren terus meningkatkan kualitas pendidikan agar lulusan pesantren mampu mengikuti perkembangan zaman dan berkontribusi bagi kemajuan bangsa. (ant/bil/iss)
NOW ON AIR SSFM 100

