Menurut Putri, gim daring bukan sekadar sarana hiburan bagi anak dan remaja. Ruang virtual juga menjadi tempat mereka membangun pertemanan, mencari pengakuan, belajar, dan mengembangkan hubungan sosial.
Namun, minimnya pengawasan dan literasi digital dapat membuka celah bagi pihak tidak bertanggung jawab untuk melakukan eksploitasi. Kelompok radikal dan jaringan ekstremis dapat memanfaatkan fitur obrolan dalam gim maupun grup media sosial tertutup untuk mendekati calon sasaran.
Perekrutan Berlangsung Bertahap
Putri menjelaskan, proses radikalisasi digital berlangsung secara halus dan bertahap. Perekrut terlebih dahulu membangun kepercayaan (trust building) melalui interaksi konsisten dan perhatian yang mungkin tidak diperoleh anak di lingkungan nyata.
Setelah kedekatan terbentuk, perekrut mulai memanipulasi hubungan emosional dengan memberikan dukungan, pujian atau reinforcement, hingga hadiah. Cara tersebut dapat membuat anak merasa senang dan berutang budi kepada orang yang memberinya perhatian.
NOW ON AIR SSFM 100

