Orang tua juga perlu mengetahui gim yang dimainkan anak serta orang-orang yang berinteraksi dengan mereka melalui fitur obrolan. Sikap mengelak ketika ditanya atau kebiasaan bermain secara diam-diam di luar waktu yang disepakati dapat menjadi alasan untuk meningkatkan kewaspadaan.
“Cara mengujinya bisa dengan mengambil akses mereka; jika anak menjadi sangat gelisah, marah, hingga tantrum berlebihan hanya karena tidak bermain satu hari, itu adalah tanda peringatan yang jelas,” tegas Putri.
Meski demikian, Putri mengingatkan orang tua agar memahami tahap perkembangan fisik, psikologis, dan sosial remaja sebelum mengambil tindakan. Penolakan anak tidak selalu berarti serangan personal terhadap keluarga, tetapi dapat berkaitan dengan kemampuan mengelola emosi dan rasionalitas yang masih berkembang.
Karena itu, orang tua perlu menghindari respons yang terlalu reaktif dan berupaya membangun pendekatan komunikasi yang sesuai dengan kondisi anak.
Putri juga menekankan pentingnya memilih waktu yang tepat untuk berbicara. Orang tua sebaiknya tidak mengajak anak berdiskusi ketika mereka sedang fokus bermain gim atau berada dalam kondisi emosional yang tidak stabil.
“Pilihlah waktu santai, misalnya saat makan malam atau dalam perjalanan. Dalam obrolan santai seperti itu, kita bisa menyelipkan isu grooming atau keamanan digital sebagai bahan diskusi dua arah, bukan sebagai interogasi atau tuduhan,” tandas Putri. (ham/rid)
NOW ON AIR SSFM 100

