“Hal ini menciptakan rasa senang dan berterima kasih dari anak, yang justru berbahaya ketika anak mulai merasa berutang kebaikan,” kata pemilik nama asli Maharani Ardi Putri ini.
Putri mengibaratkan mekanisme tersebut dengan perekrutan anggota geng motor. Calon anggota diberi identitas baru, pujian, dan ruang aman semu agar merasa diterima serta bisa menjadi diri sendiri.
Pola serupa dapat berlangsung di ruang digital. Setelah kepercayaan tertanam, perekrut mulai memberikan permintaan atau tantangan kecil yang meningkat secara bertahap untuk menguji kepatuhan dan loyalitas anak.
Orang Tua Perlu Mengenali Perubahan Perilaku
Untuk mencegah radikalisasi digital, Putri menekankan pentingnya peran orang tua dalam mengenali perubahan perilaku anak. Anak yang sebelumnya terbuka, misalnya, tiba-tiba menjadi tertutup, defensif, atau menghindari percakapan.
NOW ON AIR SSFM 100

