Komitmen tersebut kemudian dikembangkan melalui program Desa Ramah Bumi. Program ini mencakup berbagai gerakan, mulai dari meminimalkan timbulan sampah, pengelolaan sampah dan komposting, membangun desa yang sehat secara jasmani dan rohani, gerakan menanam, hingga mendorong aktivitas ekonomi masyarakat yang tetap memperhatikan kelestarian lingkungan.
Yusuf mengatakan gerakan tersebut diarahkan agar kepedulian lingkungan tidak berhenti sebagai slogan, tetapi menjadi kebiasaan yang dilakukan jamaah dan masyarakat.
“Kalau masih ada sampah, bagaimana caranya kita minimalkan. Kemudian sampah yang ada kita kelola, salah satunya dengan komposting. Kami juga mendorong jamaah untuk hobi menanam dan ketika punya usaha tetap memperhatikan lingkungan,” ujarnya.
Gagasan tersebut, kata Yusuf, memiliki keterkaitan dengan pendekatan eco-teologi yang saat ini dikembangkan Kementerian Agama. Pendekatan tersebut menekankan bahwa keberagamaan juga memiliki konsekuensi terhadap cara manusia memperlakukan dan menjaga lingkungan.
Yusuf menilai konsep itu sejalan dengan nilai yang dibangun YA Ibad, yakni menempatkan manusia sebagai khalifah yang memiliki tanggung jawab untuk merawat bumi.

NOW ON AIR SSFM 100

