Sekitar pukul 11.30 WIB, Sempurna dibawa ke pusat rehabilitasi YIARI untuk mendapat penanganan lebih lanjut. Namun, kondisinya terus memburuk. Sekitar pukul 14.00 WIB, napas Sempurna semakin dangkal dan kadar oksigen dalam tubuhnya tidak lagi terdeteksi.
Tim medis sempat melakukan resusitasi jantung dan paru atau CPR setelah Sempurna menunjukkan tanda-tanda henti napas. Sempurna akhirnya dinyatakan mati pada pukul 15.20 WIB.
Untuk mengetahui penyebab kematiannya, tim melakukan nekropsi pada 1 September 2026. Hasil pemeriksaan menunjukkan adanya perubahan pada beberapa organ, terutama paru-paru, jantung, dan ginjal.
Berdasarkan riwayat kondisi klinis dan hasil pemeriksaan itu, perubahan pada paru-paru diduga berkaitan dengan paparan asap yang mengganggu fungsi pernapasan dan menyebabkan hipoksia akut atau kondisi kekurangan oksigen.
Kondisi tersebut diduga ikut mengganggu fungsi jantung hingga berkontribusi terhadap kematian Sempurna. Murlan mengingatkan masyarakat agar segera melapor jika menemukan satwa liar yang sakit, terluka, atau terdampak karhutla.
“Peran masyarakat sangat penting. Kami mengimbau masyarakat untuk segera melaporkan apabila menemukan satwa liar yang membutuhkan pertolongan agar dapat segera ditindaklanjuti oleh petugas,” katanya. (ant/bil/ipg)

NOW ON AIR SSFM 100

