Selasa, 18 Agustus 2026

Pakar ITS Ingatkan Warga NTT Waspadai Gempa Susulan hingga Dua Minggu

Laporan oleh Risky Pratama
Bagikan
Kerusakan bangunan rumah warga yang terdampak gempabumi M7,7 di Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur (NTT). Sumber: BPBD Kabupaten Manggarai

Kadek Hendrawan Palgunadi pakar seismologi Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) mengingatkan masyarakat di Nusa Tenggara Timur (NTT) untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap gempa susulan hingga dua minggu ke depan.

Hal itu ditekankan setelah gempa dengan magnitudo 7,7 mengguncang Flores, NTT. Kemudian, dalam waktu yang berdekatan, gempa dengan magnitudo di atas 6 juga terjadi di wilayah Sumatera Utara dan Sulawesi Tengah.

Peneliti Pusat Penelitian Mitigasi Kebencanaan dan Perubahan Iklim ITS itu mengatakan, kemunculan sejumlah gempa dalam waktu berdekatan tidak serta-merta menunjukkan ketiganya saling berkaitan.

Menurut Kadek, Indonesia berada di kawasan tektonik yang kompleks dan dilintasi berbagai sesar aktif, sehingga membuat gempa bumi relatif sering terjadi di berbagai wilayah Indonesia.

“Namun, gempa bumi yang terjadi secara beruntun bisa juga terjadi secara kebetulan,” katanya, Selasa (18/8/2026).

Dosen Departemen Teknik Geofisika ITS itu menjelaskan, gempa di NTT, Sumatera Utara, dan Sulawesi Tengah bersumber dari entitas tektonik dan sesar yang berbeda. Berdasarkan analisis awal, kemungkinan ketiga gempa tersebut saling berkaitan sangat kecil.

“Gempa secara beruntun umumnya terpicu apabila bersumber dari gempa megathrust dengan magnitudo lebih dari 8,” ucapnya.

Informasi peringatan dini tsunami akibat terjadinya gempa dengan magnitudo sebesar 7,7 di wilayah NTT. Foto: BMKG

Khusus gempa di NTT, Kadek menyebut wilayah daratan Flores hingga bagian utara Bali dilintasi Sesar Flores Back-Arc Thrust. Sesar aktif tersebut sebelumnya pernah memicu gempa besar bermagnitudo 7,7 di Pulau Flores pada 1992.

“Seismolog-seismolog Indonesia sudah mengekspektasikan bahwa sesar tersebut bisa menghasilkan magnitudo maksimal mencapai 7,8,” jelas alumnus doktoral Geosains dari King Abdullah University of Science and Technology (KAUST), Saudi Arabia tersebut.

Dengan catatan itu, ia mengatakan bahwa saat ini perhatian perlu diarahkan pada potensi gempa susulan atau aftershock. Kadek menjelaskan, gempa susulan terjadi akibat proses penyesuaian pada sesar-sesar kecil di sekitar patahan utama setelah gempa besar.

Meski demikian, kekuatan gempa susulan secara umum akan terus menurun seiring berjalannya waktu.

“Jika diasumsikan gempa utamanya magnitudo 7,7 kemarin, secara statistik akan ada minimal tiga kali gempa magnitudo 6,” ucapnya.

Kadek mengimbau relawan, tim evakuasi, tim asesmen bangunan, dan masyarakat terdampak untuk tetap siaga selama dua minggu ke depan.

Ia juga menekankan pentingnya pemeriksaan kondisi fisik bangunan pascagempa untuk memastikan struktur masih aman dihuni. Ia menyarankan, warga yang rumahnya mengalami keretakan dan berisiko untuk tetap berada di lokasi evakuasi yang aman untuk sementara waktu.

Langkah tersebut menurutnya penting untuk mengurangi risiko korban akibat kerusakan bangunan yang mungkin memburuk ketika gempa susulan terjadi.

Dalam kesempatan itu, ia juga menyampaikan bahwa ITS turut berkomitmen menyampaikan edukasi mitigasi risiko untuk menciptakan permukiman yang tangguh terhadap ancaman gempa. Hal tersebut, juga bagian dari mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs) poin ke-11 tentang Kota dan Komunitas yang Berkelanjutan. (ris/saf/ipg)

Soerabaja10k
Berita Terkait


Potret NetterSelengkapnya

Evakuasi Kecelakaan Mobil Terguling di Gunungsari Surabaya

Truk Patah As Tutup Satu Jalur Benowo Surabaya

Sebelum Terbenam

Kecelakaan Beruntun di Gempol, Libatkan 7 Kendaraan

Surabaya
Selasa, 18 Agustus 2026
27o
Kurs