Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya membujuk ibu korban pencabulan pengasuh Panti Asuhan Baitul Yatim agar berhenti jadi TKW demi mendampingi anak.
Ida Widayati Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak serta Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3APPKB) Kota Surabaya menyebut, ibu remaja disabilitas inisial SK (14 tahun) selama ini bekerja sebagai TKW di Singapura.
Lima anaknya selama ini tinggal dititipkan di tempat berbeda. Salah satunya SK di panti asuhan sejak usia 3 tahun.
“SK ini dititipkan di panti itu. Lah, anak ini kembar. Yang satu (lagi) di sekolah biasa itu ikut diasuh oleh tetangganya kalau enggak salah. Terus si anak ini (SK) yang di panti,” paparnya lagi.
SK dilecehkan oleh MSN (22 tahun) pengasuh panti sejak 2023, lalu usai kasus pencabulan itu terungkap, korban diasuh ibunya.
“Jadi ibunya setelah jadi TKW itu sekarang posisi di Surabaya meskipun dia itu pengin jadi TKW lagi. Mau ke Taiwan kalau enggak salah,” katanya pada Kamis (20/8/2026).
Ia membujuk ibu korban untuk tidak kembali menjadi TKW agar bisa mengasuh dan menemani anaknya.
“Karena ibu ini jadi TKW itu merawat orang tua-tua. Jadi mungkin di sini kan juga ada lowongan seperti itu. Nanti coba kami komunikasikan dengan Pak Kadisnaker. Kira-kira bisa dibantu ditempatkan di mana barangkali ada yang yang bisa bantu,” paparnya.
Berdasarkan pendampingan DP3APPKB, korban masih dalam pemulihan trauma karena selama pelecehan, pelaku menyertakan ancaman agar korban tidak menolak.
“Mau dicekik (salah satunya),” tambahnya.
“Tetap kita lakukan pendampingan hukumnya, kemudian pendampingan untuk kesehatannya juga, dan pendampingan psikologisnya pasti,” tutupnya. (lta/saf/ham)

NOW ON AIR SSFM 100

