Selain menjaga diri dari paparan panas, ia juga minta warga bijak menggunakan air bersih. Penghematan air perlu untuk menjaga ketersediaan sumber daya air selama periode kemarau yang lebih kering.
“Terutama di rumah-rumah padat penduduk, kerawanannya cukup tinggi. Karena itu, antisipasi harus dimulai dari kesadaran masing-masing individu,” katanya.
Sementara itu, Taufiq Hermawan Kepala Stasiun Meteorologi Kelas I Juanda Sidoarjo menjelaskan, El Nino merupakan fenomena iklim alamiah yang ditandai dengan peningkatan suhu permukaan laut di wilayah Pasifik bagian tengah dan timur.
“Secara umum, dampak El Nino di Indonesia adalah berkurangnya curah hujan di sebagian besar wilayah. Ketika curah hujan berkurang, sumber daya air seperti waduk, sungai maupun sumur juga dapat mengalami penurunan,” jelas Taufiq.
Ia mengatakan, kemarau yang berlangsung bersamaan dengan El Nino dapat menjadi lebih kering dan berpotensi lebih panjang dibandingkan kondisi normal. Dampaknya antara lain meningkatnya risiko kekeringan, berkurangnya ketersediaan air, serta potensi kebakaran hutan dan lahan.
“Dampaknya, awal musim hujan berpotensi mengalami kemunduran. Karena itu, mitigasi perlu diperkuat, terutama dalam pengelolaan sumber daya air dan kesiapsiagaan menghadapi kondisi kemarau,” ujarnya. (lta/bil/ham)

NOW ON AIR SSFM 100

