Fauzan Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendiktisaintek) mendorong perguruan tinggi vokasi memperkuat keselarasan kompetensi lulusan dengan kebutuhan dunia usaha dan dunia industri untuk menekan angka pengangguran.
Hal itu ia tegaskan dalam Olimpiade Vokasi Indonesia (OLIVIA) XI 2026 yang digelar di Universitas Negeri Surabaya (Unesa) pada Minggu (2/8/2026) hingga Selasa (4/8/2026).
“Pendidikan vokasi kan banyak jumlahnya, seribu lebih. Satu sisi, pengangguran yang berijazah vokasi juga masih banyak. Tentu ini tidak bisa dibiarkan,” katanya.
Fauzan menjelaskan, salah satu penyebab masih tingginya pengangguran lulusan vokasi adalah belum optimalnya kesesuaian antara kompetensi yang diajarkan di perguruan tinggi dengan kebutuhan riil dunia kerja. Oleh karena itu, ia ingin agar setiap kampus vokasi memastikan program studi yang dimiliki benar-benar relevan dengan perkembangan industri.
“Perguruan Tinggi Vokasi memiliki tanggung jawab besar untuk bisa merealisasikan relevansi antara program studi dengan dunia usaha dan dunia industri,” ucapnya.
Untuk memperkuat upaya tersebut, Kementerian dalam waktu dekat akan mengundang Forum Perguruan Tinggi Vokasi Indonesia (FPTVI). Pertemuan itu akan difokuskan untuk merancang ekosistem pendidikan vokasi yang lebih terhubung dengan tantangan dan kebutuhan dunia industri.
“Kita ini jujur, meskipun banyak perguruan tinggi dan bisa bersama, tetapi baru pada tataran permukaan. Belum menjawab persoalan riil di masyarakat,” ujarnya.
Sementara itu, Martadi Wakil Rektor Bidang Pendidikan, Kemahasiswaan, dan Alumni Unesa mengatakan bahwa perguruan tinggi harus mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi dan kebutuhan masyarakat.
“Perguruan tinggi tidak boleh gagap, tapi harus terdepan menjadi menara air yang memberikan kehidupan bagi masyarakat, bangsa, dan negara,” ucapnya.
Menurutnya, pendidikan vokasi memiliki keunggulan karena dekat dengan dunia industri. Oleh sebab itu, inovasi yang dihasilkan mahasiswa tidak boleh berhenti pada tahap prototipe, tetapi harus dapat dihilirisasikan menjadi produk yang memberi manfaat nyata.
“Karya vokasi tidak boleh berhenti pada prototipe di laboratorium. Inovasi yang diciptakan harus ramah lingkungan, efisien secara sumber daya, serta merangkul seluruh kalangan,” tambahnya.
Ia berharap OLIVIA XI menjadi wadah lahirnya inovasi dan kolaborasi antarmahasiswa vokasi dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia, bukan sekadar ajang kompetisi.
“Persaingan ini bukan hanya mencari pemenang, tetapi menjadi wahana untuk menyemai benih inovasi dan kolaborasi talenta muda yang kelak memimpin negeri ini,” pungkasnya.
Seperti diketahui, olimpade yang digelar di Fakultas Vokasi Unesa itu diikuti oleh mahasiswa vokasi dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia untuk menunjukkan kemampuan dan inovasi di bidang pendidikan terapan.(ris)

NOW ON AIR SSFM 100

