Rabu, 1 Juli 2026

Perdagangan Satwa Liar di Indonesia Terus Naik, Primata hingga Elang Paling Diburu

Laporan oleh Muhammad Syafaruddin
Bagikan
Ilustrasi - Gibbon atau Owa adalah kera terkecil dan memiliki bentuk tubuh yang ramping dibandingkan dengan spesies kera besar. Foto: iStock

Perdagangan satwa liar ilegal di Indonesia disebut menunjukkan tren yang terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir. Primata, burung pemangsa seperti elang, hingga reptil menjadi komoditas yang paling banyak diburu karena tingginya permintaan pasar, baik di dalam maupun luar negeri.

Kondisi tersebut disampaikan Benfica Ketua Jaringan Satwa Indonesia (JSI), menyusul pengungkapan tiga kasus penyelundupan sumber daya alam hayati oleh Polda Jawa Timur yang melibatkan gading gajah, benih bening lobster (BBL), dan kupu-kupu dilindungi.

Menurut Iben sapaan akrab Benfica, berdasarkan pemantauan JSI, perdagangan satwa liar ilegal terus mengalami peningkatan dan kini telah mencapai tahap yang mengkhawatirkan.

“Pada intinya memang perdagangan satwa liar di Indonesia secara ilegal, sepanjang pengamatan kami semakin meningkat. Kami memang memiliki data sejak tahun 2008, tetapi kalau melihat tren sejak 2003 sampai 2026, kondisinya memang sangat-sangat harus diperhatikan,” katanya dalam program Wawasan Radio Suara Surabaya, Rabu (1/7/2026).

Ia menjelaskan, lonjakan perdagangan paling tinggi terjadi pada kelompok primata dan burung. Bahkan, hingga pertengahan 2026 jumlah kasus yang terpantau sudah menunjukkan peningkatan signifikan.

“Seperti primata, burung kicau atau elang, itu sangat tinggi sekali pada 2023, 2024, 2025 hingga 2026. Padahal baru pertengahan tahun 2026, tapi angkanya sudah signifikan,” ujarnya.

Iben menilai situasi perdagangan satwa liar di Indonesia saat ini sudah berada pada level darurat.

“Sangat-sangat, sudah masuk red garis merah sebenarnya. Tingginya nilai perdagangan bukan hanya di wilayah Jawa Timur, tetapi di beberapa wilayah di Indonesia juga sangat tinggi sekali,” tegasnya.

Menurutnya, Indonesia menjadi salah satu target utama perdagangan satwa liar karena memiliki kekayaan fauna yang eksotis dan bernilai ekonomi tinggi di pasar gelap. Bahkan, satwa yang sudah mati pun tetap memiliki nilai jual.

“Satwa Indonesia terkenal sangat eksotik. Satwa yang mati saja itu sangat laku untuk diperdagangkan. Selain itu, masyarakat, baik di dalam negeri maupun luar negeri, masih memiliki kebiasaan memelihara satwa liar. Hal itu yang akhirnya mendorong tingginya perburuan dan perdagangan,” jelasnya.

JSI mencatat primata seperti lutung dan gibbon menjadi jenis yang paling banyak diburu dalam beberapa tahun terakhir. Selain itu, burung elang dan berbagai jenis reptil juga terus menjadi incaran para pelaku perdagangan ilegal.

“Untuk saat ini, dari 2023 sampai 2026, saya melihat jenis primata seperti lutung atau gibbon sangat-sangat diminati. Belum lama ini juga ada penangkapan gibbon yang mau dibawa ke luar negeri. Yang kedua jenis burung atau elang, lalu urutan ketiga reptil seperti ular karena dianggap memiliki keunikan warna dan bentuk,” katanya.

Meski perdagangan lintas negara masih terjadi, Iben menilai permintaan dari pasar domestik tetap menjadi penyumbang terbesar.

“Pasarnya baik domestik maupun internasional. Yang paling besar saya melihat masih di domestik,” ujarnya.

Di tengah meningkatnya tren perdagangan satwa liar, Polda Jawa Timur baru-baru ini mengungkap tiga kasus penyelundupan sumber daya alam hayati.

Polisi menyita 53 potong gading gajah, 39.927 benih bening lobster, dan 2.113 kupu-kupu dilindungi serta menetapkan empat tersangka.

Menanggapi kasus penyelundupan gading gajah tersebut, Iban mengingatkan bahwa masuknya satwa maupun bagian tubuh satwa dari luar negeri harus memenuhi seluruh ketentuan hukum dan karantina.

Menurutnya, masyarakat tidak boleh hanya melihat status perlindungan satwa, tetapi juga legalitas proses pemasukannya.

“Ada kalanya kita melihat bukan hanya satwanya dilindungi atau tidak, tetapi bagaimana proses perjalanannya sampai di Indonesia. Karena satwa liar yang masuk ke Indonesia itu harus clear dari sisi kesehatannya, harus clear dari aspek administrasinya, dan lain sebagainya,” pungkasnya. (saf/ipg)

Soerabaja10k
Berita Terkait


Potret NetterSelengkapnya

Sepeda Motor Terbakar di Genteng Besar

Pelangi di Ujung Pagi Surabaya

Mobil Masuk Saluran Air

Perjalanan Menuju Arafah

Surabaya
Rabu, 1 Juli 2026
31o
Kurs