Ia mengatakan, kampanye tersebut tidak hanya mengandalkan konten visual, tetapi juga mengukur efektivitas edukasi melalui pre-test dan post-test.
Sampai saat ini, lebih dari 100 mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi telah menandatangani komitmen untuk menolak penggunaan jasa joki.
Kartika Herlina Candraning Shiam, Dosen pembimbing Tim Manjur menilai, gerakan tersebut penting untuk menjaga kualitas lulusan perguruan tinggi, karena proses mengerjakan tugas secara mandiri merupakan bagian dari pembentukan kompetensi sekaligus daya saing profesional mahasiswa ketika memasuki dunia kerja.
“Persoalan ini relevan untuk terus disuarakan di berbagai forum agar kesadaran kolektif tentang pentingnya integritas akademik di lingkungan perguruan tinggi dapat terjaga,” ujarnya.
Seperti diketahui, gerakan tersebut digagas secara interdisipliner oleh mahasiswa dari Prodi Manajemen Pendidikan, Prodi Pendidikan Seni Rupa, hingga Prodi Desain Komunikasi Visual. (ris/saf/ipg)
NOW ON AIR SSFM 100

