Mudianto Kepala Bidang Pembinaan Pendidikan Khusus dan Layanan Khusus Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur menilai soft skill atau karakter kini lebih utama dibanding keilmuan semata, karena sumber belajar tersedia di mana-mana.
“Kalau dulu, guru itu satu-satunya sumber ilmu, ilmu diperoleh di dalam kelas. Sekarang guru tidak bisa mengatakan bahwa ‘saya yang paling pintar’, karena sepintar apa pun guru pasti kalah sama Mbah Google,” ujarnya dalam Talkshow “Merawat Bumi Majapahit” di Radio Suara Surabaya, Selasa (6/10/2026).
Meski demikian, teknologi tidak dapat menggantikan pendidikan karakter.
“Sepintar apa pun Mbah Google, sepintar apa pun AI dan sebagainya, mereka tidak bisa mengajarkan sopan santun. Tidak bisa mengajarkan bagaimana menghargai, menghormati orang lain,” tuturnya.
Mudianto menyebut guru kini bergeser dari satu-satunya sumber belajar menjadi fasilitator pembelajaran, motivator, sekaligus inovator dalam membantu siswa memanfaatkan berbagai media belajar. Sumber utama pendidikan karakter, menurutnya, masih guru.
Karakter seperti sopan santun, disiplin, dan kemampuan menghargai orang lain tidak cukup diajarkan, tetapi harus dicontohkan.
“Sehingga guru sekarang harus berani menjadi contoh, menjadi suri teladan: ing ngarsa sung tuladha, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani. Itu tetap dipegang teguh oleh guru, semaju apa pun peradaban kita,” katanya.
Ia menegaskan kemajuan teknologi dan media sosial dapat saling melengkapi dengan penguatan hard skill maupun soft skill.(iss/ipg)
NOW ON AIR SSFM 100

