Senin, 27 Juli 2026

Trump Hentikan Sementara Serangan ke Iran, Komandan CENTCOM Nilai Operasi Sudah Capai Batas Efektivitas

Laporan oleh Muhammad Syafaruddin
Bagikan
Operasi Pasukan Khusus AS yang akan merebut uranium dari Iran, disebut akan menjadi "operasi paling canggih dalam sejarah militer". Foto: USS Mount Whitney (LCC 20)

Donald Trump Presiden Amerika Serikat (AS) memutuskan menghentikan sementara serangan udara terhadap Iran di kawasan Selat Hormuz setelah mendapat rekomendasi dari komandan tertinggi militer AS di Timur Tengah yang menilai operasi tersebut telah mencapai batas efektivitasnya.

Laporan Axios pada Minggu (26/7/2026) menyebutkan, Laksamana Brad Cooper Komandan Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM), menyampaikan kepada pimpinan Pentagon, Kepala Staf Gabungan, serta Gedung Putih bahwa hampir seluruh sasaran utama dalam kampanye militer selama dua pekan terakhir telah berhasil dihantam.

Menurut sejumlah sumber yang mengetahui pembahasan tersebut, Cooper menilai serangan udara yang berkelanjutan telah secara signifikan melemahkan kemampuan Iran untuk mengancam jalur pelayaran komersial di Selat Hormuz, salah satu jalur distribusi energi paling strategis di dunia.

Penilaian itu menjadi salah satu pertimbangan utama Trump saat memutuskan pada Jumat untuk menghentikan sementara serangan terhadap posisi militer Iran di sepanjang pesisir selatan negara tersebut dan kawasan sekitar Selat Hormuz.

Keputusan tersebut mengakhiri rangkaian operasi militer yang berlangsung hampir dua pekan tanpa henti.

Sejumlah pejabat militer dan sipil juga menilai serangan lanjutan tidak lagi memberikan keuntungan strategis yang signifikan tanpa adanya eskalasi konflik yang lebih luas.

Trump mengambil keputusan tersebut setelah menggelar rapat bersama penasihat keamanan nasional dan pejabat militer senior yang memaparkan perkembangan operasi serta rencana serangan terbaru.

Sumber yang mengetahui proses pengambilan keputusan mengatakan, Trump sebelumnya sempat mempertimbangkan memperluas operasi militer pada awal pekan.

Namun, ia mulai mengubah sikap pada Kamis malam sebelum akhirnya memutuskan menghentikan serangan sehari kemudian.

Dalam laporannya kepada pemerintah, Cooper menjelaskan sebagian besar target militer yang telah ditetapkan di kawasan Selat Hormuz sudah berhasil diserang sehingga hanya tersisa sedikit sasaran strategis.

Ia menyebut militer AS masih memiliki kemampuan untuk melanjutkan operasi guna menghancurkan sekitar 20 persen target yang sebelumnya masuk dalam daftar Operasi Epic Fury, tetapi belum diserang pada tahap awal.

Meski demikian, tanpa keputusan untuk meningkatkan skala operasi secara signifikan, Cooper menilai melanjutkan kampanye pemboman terbatas tidak lagi memberikan manfaat yang sebanding.

Kapten Tim Hawkins juru bicara CENTCOM menolak memberikan komentar terkait rekomendasi yang disampaikan Cooper kepada pemerintah AS.

Di sisi lain, sejumlah pejabat militer juga mengingatkan adanya tantangan operasional apabila konflik terus berlanjut.

Dan Caine Ketua Kepala Staf Gabungan AS Jenderal Angkatan Udara dilaporkan memperingatkan Pete Hegseth Menteri Pertahanan dan Trump bahwa persediaan rudal pencegat sistem pertahanan udara mulai menipis.

Kondisi tersebut dikhawatirkan dapat mengurangi kemampuan AS melindungi pasukan maupun sekutu di kawasan apabila konflik meningkat.

Juru bicara Ketua Kepala Staf Gabungan menolak mengomentari isi nasihat militer yang bersifat rahasia kepada presiden.

Sementara aktivitas militer melambat, jalur diplomasi tetap berjalan. Iran dan Oman dilaporkan masih melakukan pembicaraan untuk membuka kembali Selat Hormuz melalui mekanisme yang menjamin kapal-kapal komersial dapat melintas dengan aman tanpa ancaman serangan.

Hingga kini belum dapat dipastikan apakah hasil negosiasi antara Teheran dan Muscat akan diterima oleh pemerintahan Trump. Apabila pembicaraan gagal atau Washington menolak kesepakatan yang diajukan, operasi militer berpotensi kembali dilanjutkan.

Untuk sementara, situasi di lapangan digambarkan para pejabat sebagai skema “quiet for quiet”, yakni kedua pihak sama-sama menahan diri dari serangan baru sembari memberikan ruang bagi proses diplomasi.

Di saat yang sama, Amerika Serikat dan Inggris juga terus membahas rencana penyelenggaraan konferensi internasional pekan ini untuk membentuk koalisi multinasional yang bertugas mengamankan jalur pelayaran komersial serta membersihkan ranjau laut di Selat Hormuz. Hingga kini, jadwal pertemuan tersebut belum diumumkan secara resmi. (saf/ipg)

Soerabaja10k
Berita Terkait


Potret NetterSelengkapnya

Truk Muat Besi Terguling di Sukomanunggal Surabaya

Muatan Menggunung

Pelangi di Ujung Pagi Surabaya

Surabaya
Senin, 27 Juli 2026
28o
Kurs