Donald Trump Presiden Amerika Serikat (AS) memutuskan menunda rencana serangan baru terhadap Iran dengan syarat kesepakatan terkait program nuklir Iran dan pembukaan kembali Selat Hormuz dapat segera tercapai.
Keputusan tersebut disampaikan Trump melalui platform Truth Social pada Sabtu (1/8/2026) malam waktu setempat.
Ia mengaku menerima permintaan dari Iran dan sejumlah negara di Timur Tengah agar memberikan waktu untuk menyelesaikan kesepakatan yang akan mengakhiri ancaman nuklir Iran sekaligus membuka kembali Selat Hormuz yang menjadi jalur penting perdagangan energi dunia.
“Berdasarkan permintaan tersebut, saya setuju untuk membatalkan serangan demi kepentingan dunia dan masa depan Iran, dengan syarat kesepakatan dapat segera dicapai,” tulis Trump.
Trump juga mengklaim Israel mendukung langkah tersebut, meski hingga kini pemerintah Israel belum memberikan pernyataan resmi.
Dilansir dari Reuters pada Minggu (2/8/2026), pernyataan itu muncul setelah Trump melakukan pembicaraan melalui telepon dengan Mohammed bin Salman (MBS) Putra Mahkota Arab Saudi.
Menurut kantor berita pemerintah Arab Saudi, MBS menekankan pentingnya dialog untuk meredakan ketegangan di kawasan Timur Tengah.
Gedung Putih membenarkan adanya komunikasi tersebut, namun tidak mengungkap isi pembicaraan secara rinci.
Di sisi lain, Iran memperingatkan Amerika Serikat agar tidak melakukan tindakan militer baru. Abbas Araqchi Menteri Luar Negeri Iran menegaskan, negaranya akan memberikan respons tegas apabila AS benar-benar melancarkan serangan terhadap wilayah Iran.
Dalam percakapan terpisah dengan pejabat Turki, Pakistan, dan Arab Saudi, Araqchi menyatakan setiap bentuk agresi akan dibalas secara proporsional.
Ia juga memperingatkan bahwa keterlibatan negara-negara kawasan dalam serangan terhadap Iran akan memperbesar konflik di Timur Tengah.
Media Iran yang berafiliasi dengan Dewan Keamanan Nasional, Nournews, bahkan menyebut serangan AS terhadap infrastruktur energi Iran akan dibalas dengan menyerang ladang minyak di Arab Saudi dan Uni Emirat Arab serta fasilitas gas di Qatar dan Israel. (ris/saf/ham)
NOW ON AIR SSFM 100

