Wacana penggunaan tepung singkong sebagai bahan pemadam kebakaran hutan dan lahan (karhutla) memunculkan beragam tanggapan dari pendengar Radio Suara Surabaya. Mulai dari efektivitas teknologi, ketersediaan bahan baku, hingga persoalan pengelolaan lahan gambut yang dinilai perlu mendapat perhatian lebih serius.
Berbagai pandangan itu mengemuka dalam diskusi interaktif Radio Suara Surabaya, Senin (31/8/2026), menyusul gagasan penggunaan tepung ubi atau singkong sebagai alternatif bahan pemadam kebakaran.
Sebelumnya, Prabowo Subianto Presiden mendorong pengembangan teknologi yang disebut ubi bombing dalam rapat penanganan karhutla di Palembang, Sumatera Selatan, pada 24 Agustus 2026. Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) kemudian melakukan kajian untuk mengetahui kemungkinan penerapannya dalam skala lebih besar.
Namun, sejumlah pendengar mempertanyakan apakah teknologi tersebut cukup efektif untuk menangani kebakaran yang dapat menjangkau ribuan hektare.
Tepung Singkong Bisa Padamkan Api, tetapi Bagaimana dengan Karhutla?
Wawan Sofwanudin, praktisi konsultan fire rescue, menjelaskan bahwa penanganan kebakaran hutan memiliki tantangan tersendiri karena melibatkan bahan mudah terbakar seperti kayu, daun, dan vegetasi lainnya.
Menurutnya, air masih menjadi bahan utama yang dibutuhkan untuk memadamkan sekaligus mendinginkan material yang terbakar.
Tantangan terbesar justru terletak pada bagaimana petugas dapat menjangkau titik api, terutama di kawasan hutan dengan medan sulit seperti jurang dan lahan gambut.
Wawan mencontohkan penggunaan water bombing melalui pesawat untuk menjangkau lokasi kebakaran yang sulit diakses petugas darat. Ia juga menyinggung penggunaan bahan kimia tertentu untuk membantu penanganan kebakaran gambut.
Pandangan serupa disampaikan Dodik Puji Raharjo, seorang pengemudi transportasi online. Ia mempertanyakan apakah penggunaan bahan berbasis pati singkong dapat diterapkan untuk kebakaran berskala besar.
Dodik menyebut teknologi bola pemadam api sudah dikembangkan di luar negeri, termasuk Thailand. Menurutnya, teknologi semacam itu lebih sesuai untuk menangani api yang masih terlokalisasi, bukan kebakaran hutan yang meluas.
Sementara itu, Selvia Lotulung, seorang ibu rumah tangga, melihat potensi ekonomi dari pengembangan bahan pemadam berbasis tapioka.
Ia berpendapat, apabila teknologi tersebut berhasil dikembangkan dan diproduksi secara luas, industri pengolahan singkong berpeluang memperoleh tambahan permintaan.
Meski demikian, Selvia juga mempertanyakan berapa banyak tepung tapioka yang diperlukan jika penggunaannya diterapkan dalam skala besar.
Jangan Hanya Memadamkan, Pencegahan Karhutla Juga Penting
Persoalan ketersediaan bahan baku menjadi perhatian Lilit Pitoyo, seorang pengusaha ekspor. Ia mempertanyakan kelayakan ekonomi dan pertanian apabila tepung singkong harus diproduksi dalam jumlah besar untuk memadamkan kebakaran hutan.
Menurutnya, kebutuhan bahan pemadam untuk menangani kebakaran ribuan hektare tentu berbeda dengan kebakaran kecil yang masih terlokalisasi.
Lilit justru mendorong pemerintah agar lebih memperhatikan upaya pencegahan, termasuk pengelolaan tata ruang dan pengawasan pembukaan lahan.
Ia menyoroti aktivitas pembukaan kawasan hutan untuk kepentingan perkebunan yang dinilainya turut memengaruhi risiko kebakaran. Baginya, pengembangan teknologi pemadam perlu berjalan beriringan dengan upaya mencegah munculnya titik api.
Persoalan pengelolaan lahan juga disampaikan Friantana Rayadi David, warga Palangka Raya, Kalimantan Tengah, yang sedang berada di Surabaya.
Friantana menilai kebakaran lahan gambut tidak dapat dipisahkan dari kondisi lingkungan dan kebijakan pengelolaan lahan yang memengaruhi ketersediaan air.
Ia menjelaskan, masyarakat adat Dayak telah lama memiliki tata cara tersendiri dalam mengolah lahan yang disesuaikan dengan kondisi lingkungan sekitarnya.
Menurutnya, praktik tersebut perlu dibedakan dari pembukaan lahan secara masif yang membutuhkan sumber daya besar.
Friantana berharap penanganan karhutla tidak hanya berfokus pada teknologi pemadaman, tetapi juga mempertimbangkan kondisi lahan gambut dan dampak kebijakan pengelolaannya.
BRIN Masih Mengkaji Efektivitas Ubi Bombing
Di tengah beragam tanggapan masyarakat, Arif Satria Kepala BRIN sebelumnya menyampaikan bahwa penggunaan tepung singkong sebagai bahan alternatif pemadam kebakaran secara teoritis memungkinkan untuk dikembangkan.
Namun, efektivitasnya dalam menangani karhutla berskala besar masih memerlukan pengujian lebih lanjut. BRIN juga telah berkoordinasi dengan Polri untuk mempersiapkan pemanfaatan teknologi tersebut.
Berbagai pendapat pendengar Suara Surabaya menunjukkan bahwa inovasi pemadam berbahan singkong memunculkan pertanyaan yang lebih luas, bukan hanya mengenai kemampuan bahan tersebut memadamkan api, tetapi juga kesiapan produksi, efektivitas di lapangan, dan pengelolaan kawasan rawan kebakaran.
Di samping pengembangan teknologi, pencegahan melalui pengelolaan lahan dan perlindungan kawasan gambut menjadi perhatian yang tidak kalah penting dalam menghadapi ancaman karhutla. (nda/ipg)

NOW ON AIR SSFM 100

