Lalu Kota Medan juga memiliki inovasi Qresto (Quick Response Electronic Splitting System for Tax Optimization), sedangkan berbagai kota lain mengembangkan sistem digital yang bisa dihibahkan kepada daerah lain tanpa harus membangun dari awal.
“Maka ketika ada teman kita yang kekurangan, kita kasih saja aplikasinya, kita berikan apa yang kita punya. Insyaallah itu akan menjadi amal jariyah kita, akan menguatkan satu sama lain di antara kita,” tuturnya.
Menurutnya, inovasi yang lahir dari kota-kota anggota APEKSI kini mulai mendapat perhatian internasional. Bahkan, beberapa pemerintah daerah dari luar negeri datang untuk mempelajari berbagai inovasi yang dikembangkan di Indonesia.
“Contohnya Moro Philippines, Kota Shaviyani dan Laamu Atoll Maldives itu belajar dari Kota Denpasar dan Malang. Serta Kota Mojokerto dengan ITPC di Nagoya Jepang. Itu menunjukkan bahwa kota-kota yang ada di bawah APEKSI ternyata memiliki pemimpin-pemimpin yang inovasi dan berhasil,” jelasnya.
Selain inovasi pelayanan publik, APEKSI juga mendorong penguatan city branding sebagai upaya meningkatkan daya saing daerah. Ia menyebut, langkah yang dilakukan Kota Singkawang, Tidore, dan Ternate berhasil menjadi contoh dalam mempromosikan potensi daerah sekaligus meningkatkan PAD.

NOW ON AIR SSFM 100

