“Sudah saatnya keberhasilan KKN tidak lagi diukur dari berapa lama mahasiswa tinggal di desa atau berapa banyak program yang dilaksanakan. Ukurannya harus bergeser menjadi seberapa besar dampak yang tetap dirasakan masyarakat setelah mahasiswa kembali ke kampus,” katanya.
Menurutnya, perguruan tinggi memiliki tanggung jawab untuk memastikan hasil pendidikan, penelitian, dan inovasi benar-benar hadir menyelesaikan persoalan masyarakat, sehingga perlu dorongan agar program memiliki manfaat yang bisa dirasakan masyarakat setelah kegiatan selesai.
“Mahasiswa tidak boleh sekadar datang, melaksanakan kegiatan, lalu pulang. Mereka harus meninggalkan pengetahuan, sistem, inovasi, dan jejaring yang dapat terus dikembangkan oleh masyarakat desa,” ujarnya.
Ia mengatakan, desa merupakan ruang implementasi terbaik bagi hasil riset perguruan tinggi. Berbagai persoalan di desa, mulai dari penguatan UMKM, pengembangan BUMDes, pengelolaan sampah, digitalisasi layanan, ketahanan pangan hingga pemberdayaan pemuda, membutuhkan solusi berbasis ilmu pengetahuan.
“Kampus harus hadir sebagai bagian dari solusi pembangunan nasional. Karena itu kami ingin KKN menjadi jembatan yang mempertemukan inovasi kampus dengan kebutuhan riil masyarakat,” tegasnya.

NOW ON AIR SSFM 100

