Senin, 28 September 2026

Waspada, Fenomena El Nino Berpotensi Memicu Peningkatan Karhutla

Laporan oleh Akira Tandika Paramitaningtyas
Bagikan
Polisi mengecek kondisi padang rumput terdampak kebakaran di sekitar Jalur Lingkar Kaldera Tengger (JLKT) di Gunung Bromo sisi arah ke Jemplang, Kabupaten Malang, Minggu (9/8/2026). Foto: Antara

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Klimatologi Jawa Timur (Jatim) mengingatkan seluruh daerah di provinsi setempat agar mewaspadai fenomena El Nino berkategori kuat.

Fenomena ini, menurut Linda Fitrotul Prakirawan BMKG Stasiun Klimatologi Jatim, menyebabkan berkurangnya curah hujan, sehingga memicu peningkatan potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Melansir Antara, Linda mengatakan indikasi El Nino dengan kategori kuat karena nilai anomali suhu muka laut di wilayah Samudera Pasifik timur (Nino 3.4) di atas +2 derajat Celsius.

“Dampak yang perlu diwaspadai adalah berkurangnya curah hujan dan musim kemarau menjadi lebih kering, karena dapat menyebabkan hari tanpa hujan menjadi lebih panjang, meningkatkan potensi kekeringan, berkurangnya ketersediaan air untuk pertanian maupun kebutuhan masyarakat, serta meningkatkan risiko karhutla,” kata Linda, Kamis (13/8/2026).

Linda menjelaskan, El Nino kategori kuat juga disebabkan terjadinya anomali suku muka laut di Samudera Hindia bagian barat dan timur yang ditunjukkan Indeks Indian Ocean Dipole (IOD) pada rentang positif 0,63 dan mengindikasikan bahwa suplai air cenderung bergerak dari Indonesia bagian barat menuju ke pesisir timur Afrika.

Kombinasi kondisi yang ada itu mampu menyebabkan musim kemarau di wilayah Indonesia menjadi lebih kering dari normalnya.

BMKG Stasiun Klimatologi Jatim memperkirakan musim kemarau di provinsi setempat akan berlangsung hingga awal 2027.

Untuk menyikapi kondisi yang ada, pihaknya mengimbau masyarakat supaya tidak melakukan segala aktivitas yang mampu memicu terjadinya karhutla, seperti membuang puntung rokok sembarangan dan membakar sampah.

Kemudian masyarakat juga diingatkan agar tidak melakukan aktivitas pembersihan area lahan atau kebun dengan memanfaatkan penggunaan api atau melalui pembakaran.

“Kami mengimbau pula supaya masyarakat bijak saat memanfaatkan air,” tutupnya.(ant/kir/ipg)

Soerabaja10k
Berita Terkait


Potret NetterSelengkapnya

Cuaca di Pos Pantau Gunung Merapi Cerah

Posisi Mobil Tersangkut di Viaduk dari Belakang

Tersangkut di Bawah Viaduk Gubeng

Kecelakaan Beruntun di Tol Waru Arah Perak

Surabaya
Senin, 28 September 2026
24o
Kurs