Kamis, 8 Oktober 2026

Wawasan Polling SS: Masyarakat Beri Respons Beragam Soal Uji Coba MBG Sistem Prasmanan

Laporan oleh Akira Tandika Paramitaningtyas
Bagikan
Ilustrasi. Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) menyiapkan Makan Bergizi Gratis (MBG). Foto: prabowosubianto.com

Badan Gizi Nasional (BGN) bakal melakukan uji coba program Makan Bergizi Gratis (MBG) dengan sistem prasmanan di sekolah. Sudaryono Kepala BGN menyampaikan, uji coba ini akan dilakukan untuk melihat efektivitas penyajian hingga menjaga kualitas makanan.

Sistem ini, kata Sudaryono, diperkirakan bisa mengurangi jeda waktu antara proses memasak dan konsumsi dengan adanya central kitchen. Seperti yang sudah dilaksanakan di sistem penyediaan makan sekolah yang berlangsung di Jepang.

Mengenai uji coba MBG sistem prasmanan, Radio Suara Surabaya melakukan polling ke pendengar dengan tajuk, ” Setuju atau Tidak, Skema MBG Prasmanan?”. Hasilnya, masyarakat memberikan respons beragam.

Polling ini diambil dari media sosial Instagram @suarasurabayamedia dan secara langsung lewat pesan (WhatsApp) serta telepon yang masuk saat program Wawasan Polling berlangsung, sejak pukul 07.00 hingga 09.00 WIB.

Dalam diskusi di program Wawasan Polling Suara Surabaya, Kamis (8/10/2026), respons pengakses Suara Surabaya mengenai isu tersebut cukup beragam.

Berdasar data dari pendengar Radio Suara Surabaya yang bergabung melalui telepon dan pesan WhatsApp, sebanyak 73 persen pendengar (102 voters) memilih setuju dengan skema MBG prasmanan. Sedangkan 27 persen (37 voters) sisanya tidak setuju.

Sementara respons polling di Instagram @suarasurabayamedia, sebanyak 52 persen pengguna (85 votes) memilih tidak setuju dengan skema MBG prasmanan. Sedangkan 48 persen (79 votes) memilih setuju.

Mengenai hal itu, Prof Dr Martadi Wakil Rektor 1 Universitas Negeri Surabaya (UNESA) yang juga pengamat pendidikan, menilai skema MBG prasmanan tidak hanya memberikan makan, tapi ada nilai edukatif bagi siswa.

“Menurut saya, skema MBG prasmanan tidak sekadar memberikan makan. Tapi juga memberikan nilai edukatif pada anak-anak dan pasti akan ada plus minus,” katanya, saat onair di Radio Suara Surabaya, Kamis (8/10/2026).

Martadi berpendapat, skema MBG prasmanan ini harus dirancang sebaik mungkin. Pola penyajian MBG sebenarnya hanya urusan teknis, tapi sebaiknya harus ada nilai lain yang bisa dipetik oleh anak-anak.

Dia menjelaskan, dari skema MBG prasmanan ini anak-anak bisa mengambil pembelajaran lain seperti belajar secukupnya, bertanggung jawab pada makanan.

“Kalau skema prasmanan, anak-anak bisa mengambil makanan sesuai selera mereka dan bertanggung jawab untuk menghabiskan makanan itu agar tidak food waste. Kemudian anak-anak juga bisa terlibat dalam kegiatan piket, salah satunya mencuci piring setelah makan,” ungkapnya.

Martadi memahami kekhawatiran orang tua jika anak-anak harus ikut terlibat dalam penyajian MBG prasmanan di sekolah. Namun, dia meyakini kalau skema ini sudah dijalankan dan terorganisir, maka waktu pelaksanaannya pun sudah diatur sedemikian rupa agar tak mengganggu jam pelajaran.

“Soal kemudian repot ya pasti. Karena kan melayani prasmanan. Tetapi, kalau itu nanti bisa diatur dengan manajemen waktu yang lebih baik, sistem mekanisme pembagian kerja yang bagus, saya pikir kekhawatiran akan repot, akan menyita waktu itu nanti akan akan bisa terselesaikan,” jelasnya.(kir/ipg)

Berita Terkait


Potret NetterSelengkapnya

Cuaca di Pos Pantau Gunung Merapi Cerah

Posisi Mobil Tersangkut di Viaduk dari Belakang

Tersangkut di Bawah Viaduk Gubeng

Kecelakaan Beruntun di Tol Waru Arah Perak

Surabaya
Kamis, 8 Oktober 2026
35o
Kurs