Karena, dengan memangkas jumlah BUMN tidak langsung membuat lingkungannya menjadi sehat.
“Danantara harus transparan. Mau dipotong berapapun BUMN-nya, tapi menurut saya kalau manajemen di dalamnya tidak diisi oleh orang profesional, tidak akan mengubah persepsi pasar pada Danantara,” tambahnya.
Dipo menilai, tata kelola menjadi hal utama yang harus dilakukan sebagai langkah pembaruan Danantara, bukan jumlah perusahaan yang dikurangi. Dengan mengurangi atau menggabungkan beberapa entitas baru, harus dibersamai dengan penuntasan masalah-masalah lama.
“Dengan Danantara tidak mengeluarkan laporan keuangan, maka kepercayaan publik makin tipis. Dan ini berhubungan dengan semuanya. Seperti, rupiah, persepsi, kredibilitas, dan lainnya,” ungkapnya.
Hal serupa juga disampaikan oleh Dr. Pwee Leng Direktur Pengembangan Usaha Sosial Universitas Kristen (UK) Petra, saat onair di Radio Suara Surabaya.

NOW ON AIR SSFM 100

