“Pengurus menyelenggarakan kegiatan agar tidak tumpang tindih satu sama lain, sehingga atlet bisa berjenjang dengan baik. Kita mengatur agar atlet tidak sekadar mengejar jumlah event, melainkan mengutamakan kualitas di dalam pertandingan itu sendiri,” jelasnya.
Sementara itu, Dedy Suhayadi Wakil Ketua KONI Jatim menilai Kejurprov menjadi salah satu sarana efektif untuk menjaring atlet bridge potensial.
Menurutnya, bridge tidak hanya mengandalkan pengalaman bertanding, tetapi juga membutuhkan kemampuan berpikir logis, daya ingat, analisis strategi, serta kecepatan memahami kode saat bermain berpasangan.
“Bridge ini memerlukan kemampuan analisis dan pemahaman kode yang cepat saat berpasangan di meja pertandingan,” ungkap Dedy.
Untuk memperluas pembinaan, Dedy mendorong GABSI Jatim memperkuat kolaborasi dengan sekolah agar bridge semakin dikenal di kalangan pelajar.
Ia menilai dukungan institusi pendidikan dapat membuka jalur regenerasi atlet sekaligus memberi kesempatan kepada siswa untuk mengembangkan prestasi olahraga. (saf/faz)
NOW ON AIR SSFM 100

