Dukungan tersebut mencakup penyediaan tempat latihan, biaya sewa kolam, akomodasi, konsumsi dan pemenuhan gizi atlet, peralatan latihan, transportasi, hingga berbagai kebutuhan operasional lainnya.
Menurut Mirza, pemenuhan kebutuhan tersebut membuat atlet dapat berkonsentrasi penuh menjalani program latihan tanpa terganggu persoalan di luar aspek teknis.
Mirza juga menyoroti tantangan yang dihadapi atlet yang telah berkeluarga. Selain dituntut meningkatkan performa, mereka juga harus memastikan kebutuhan keluarga tetap terpenuhi selama menjalani program latihan jangka panjang.
“Bagi atlet yang telah berkeluarga, tantangannya bukan hanya meningkatkan performa untuk meraih prestasi, tetapi juga memastikan kebutuhan keluarga tetap terpenuhi. Dalam kondisi seperti itu, atlet sering dihadapkan pada pilihan antara menjaga fokus latihan atau membagi perhatian untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga. Karena itu, Puslatda memerlukan dukungan yang komprehensif agar atlet dan pelatih dapat berkonsentrasi penuh menjalankan program latihan,” ujarnya.
Menurut Mirza, sistem pembinaan yang berkelanjutan akan memberikan kepastian bagi atlet dan pelatih sehingga mereka dapat fokus meningkatkan performa tanpa dibebani persoalan nonteknis.
“Juara tidak dibentuk pada hari pertandingan. Juara dibentuk setiap hari ketika atlet datang berlatih, menjalankan program dengan disiplin, dan memiliki ketenangan untuk fokus mengejar prestasi,” pungkasnya. (saf/ham)
NOW ON AIR SSFM 100

