Tantowi Yahya Duta Besar Indonesia untuk Selandia Baru periode 2017–2021 mengkritik berbagai kontroversi yang mewarnai gelaran Piala Dunia 2026.
Menurutnya, turnamen sepak bola terbesar di dunia itu semakin jauh dari nilai sportivitas akibat kepentingan politik, ekonomi, dan intervensi pihak-pihak berkepentingan.
Tantowi mengatakan, Piala Dunia sejatinya merupakan ajang yang mampu menyatukan masyarakat dunia. Namun, besarnya nilai ekonomi yang berputar dalam turnamen tersebut membuat kepentingan tuan rumah dan sponsor kerap mengalahkan semangat keadilan dalam olahraga.
“Piala Dunia tidak pernah lepas dari kontroversi karena berbagai kepentingan dan intervensi. Wajar karena ini perhelatan besar yang berbiaya raksasa dan tidak ada yang namanya free lunch. Sayangnya, kepentingan tuan rumah dan sponsor sering kali berada di atas segalanya. Sportivitas, keadilan, dan logika dengan mudah dilanggar,” kata Tantowi Yahya kepada suarasurabaya.net, Rabu (8/7/2026).

Ia juga mengaku prihatin terhadap berbagai keputusan yang dinilai mencederai integritas kompetisi, termasuk dugaan adanya campur tangan kekuasaan dalam proses pertandingan.
“Intervensi Presiden Trump sehingga kartu merah untuk Balogun bisa dianulir adalah noda besar Piala Dunia. Ini menjadi preseden buruk bagi sepak bola. FIFA yang selama ini dianggap independen ternyata tidak sepenuhnya kebal terhadap tekanan kekuasaan dan kekuatan uang,” ujar Tantowi yang juga die hard nya klub Arsenal ini.
Selain itu, Tantowi menilai sejumlah tim diperlakukan tidak adil selama turnamen berlangsung. Ia mencontohkan jadwal pertandingan, penempatan venue, hingga keputusan wasit yang dinilai tidak konsisten.
“Inggris dipaksa bermain di jam dan venue yang menyiksa, sementara pelanggaran terhadap pemain-pemain tertentu selalu menghasilkan keuntungan. Sebaliknya, pelanggaran yang dilakukan pemain bintang sering kali diabaikan. Ketidakadilan seperti ini disaksikan miliaran orang di seluruh dunia,” katanya.
Menurut Tantowi, terdapat indikasi adanya kepentingan tertentu yang membuat sejumlah negara harus melangkah lebih jauh dalam turnamen.
“Dari beberapa pertandingan, saya merasakan adanya kesepakatan awal yang dibangun FIFA dengan tuan rumah dan sponsor sehingga tim-tim tertentu harus melaju sampai babak tertentu, apa pun caranya. Iran, Jepang, dan Australia menjadi negara-negara yang dirugikan,” ucapnya.
Secara khusus, Tantowi memberikan apresiasi kepada tim nasional Mesir meski akhirnya tersingkir dari Argentina. Ia menilai Mesir tampil lebih baik dan layak melaju ke babak berikutnya.
“Saya bukan pendukung Argentina maupun Mesir, tetapi menurut saya pertandingan tadi malam adalah milik Mesir. Jujur, merekalah yang seharusnya maju ke babak berikut. Mereka mempertunjukkan sepak bola yang indah dan membuktikan bahwa kiblat sepak bola tidak hanya Amerika Latin dan Eropa,” ujar mantan Wakil Ketua Komisi I DPR RI ini.
Ia menambahkan, babak perempat final masih menyisakan wakil dari berbagai kawasan sehingga kompetisi tetap menarik untuk diikuti.
“Babak delapan besar masih menyisakan wakil dari Eropa, Amerika, dan Afrika. Turnamen ini akan tetap menarik asalkan tidak ada pemaksaan terhadap wakil dari kawasan tertentu untuk menjadi juara. Sepak bola itu harus gembira,” pungkasnya.(faz/ipg)

NOW ON AIR SSFM 100

