Krisis tata kelola di tubuh FIFA memanas setelah tiga konfederasi sepak bola terbesar dunia, UEFA, Concacaf, dan Konfederasi Sepak Bola Asia (AFC), secara terbuka mengecam cara organisasi tersebut menangani rencana komersialisasi Piala Dunia.
Dalam surat terbuka kepada komunitas sepak bola yang dirilis Senin, ketiga konfederasi menilai langkah FIFA tersebut sebagai “pelanggaran mendasar terhadap kepercayaan” serta menyebut adanya unsur “penipuan” dalam proses pengambilan keputusan.
Mereka juga menilai polemik tersebut telah memunculkan pertanyaan serius mengenai integritas kepemimpinan sepak bola dunia.
Surat tersebut ditandatangani pimpinan UEFA, Concacaf, dan AFC. Meski tidak secara langsung menyebut nama Presiden FIFA Gianni Infantino, isi pernyataan secara jelas mengkritik kepemimpinan FIFA dalam menangani rencana tersebut.
“Ini menyangkut sesuatu yang lebih mendasar: integritas permainan dan integritas mereka yang dipilih untuk memimpinnya,” demikian isi pernyataan bersama tersebut.
Ketiga konfederasi menegaskan kepemimpinan sepak bola bukanlah persoalan kepemilikan kekuasaan. Menurut mereka, posisi tersebut merupakan mandat untuk melayani komunitas sepak bola yang telah memberikan kepercayaan.
“Ketika kepercayaan dilanggar melalui penipuan, ketika seseorang menempatkan dirinya di atas kelompok yang memberinya wewenang, tugas tersebut telah ditinggalkan,” lanjut pernyataan itu.
Dilansir dari ESPN, polemik bermula dari rencana FIFA membentuk FIFA Forward Enterprise (FFE), sebuah perusahaan yang akan menangani aspek komersial dan operasional turnamen FIFA.
Dalam proposal tersebut, FIFA disebut membuka kemungkinan menjual sekitar 20 persen kepemilikan FFE kepada investor swasta.
Infantino kemudian menyampaikan permintaan maaf atas proposal tersebut. Namun, UEFA, AFC, dan Concacaf menilai persoalannya jauh lebih serius daripada sekadar kesalahan prosedur.
Ketiga konfederasi menilai proposal tersebut disusun dalam waktu yang terlalu singkat, tanpa konsultasi yang memadai, dan didorong menuju tenggat waktu sebelum asosiasi anggota memiliki kesempatan cukup untuk mempelajari ketentuannya.
“Proposal yang diajukan dalam waktu yang sangat singkat, tanpa konsultasi yang berarti, dan didorong menuju tenggat waktu sebelum asosiasi anggota dapat meninjau ketentuannya secara layak bukanlah hasil dari kelalaian, melainkan sebuah rancangan yang dimaksudkan untuk membatasi pengawasan,” tulis mereka.
Mereka juga meminta FIFA melakukan penyelidikan independen terhadap proses tersebut. Ketiga konfederasi menilai pemeriksaan internal yang dilakukan FIFA tidak cukup untuk menjawab persoalan tata kelola yang muncul.
Menurut mereka, peninjauan harus dilakukan pihak ketiga yang benar-benar independen dan tidak melibatkan administrasi, staf, maupun pemangku kepentingan FIFA.
“Administrasi FIFA seharusnya tidak memiliki peran dalam melakukan peninjauan tersebut,” tegas mereka.
Ketiga konfederasi juga menyoroti sikap FIFA yang dinilai belum menunjukkan akuntabilitas dan keterbukaan yang memadai.
“Tidak ada akuntabilitas ketika seharusnya ada pertanggungjawaban, ada jarak ketika seharusnya ada keterbukaan. Ini bukan kualitas yang layak dimiliki kepemimpinan sepak bola,” tulis mereka.
Di tengah ketegangan tersebut, muncul pula pembicaraan awal antara UEFA, AFC, dan Concacaf mengenai kemungkinan menggelar kompetisi secara mandiri.
Menurut laporan Press Association, pembicaraan tersebut masih berada pada tahap awal. Langkah itu disebut bukan semata-mata sebagai upaya menghadapi FIFA, melainkan untuk memastikan para pemain di bawah yurisdiksi ketiga konfederasi tetap memiliki kesempatan bertanding jika konflik dengan FIFA semakin membesar.
UEFA sebelumnya memang pernah mengancam kemungkinan memboikot kompetisi FIFA. Pembicaraan dengan AFC dan Concacaf dinilai menjadi bagian dari langkah antisipasi terhadap perkembangan situasi.
Ketiga konfederasi tersebut memiliki wilayah kerja yang mencakup sebagian besar ekosistem sepak bola dunia. UEFA mengatur sepak bola Eropa, Concacaf menaungi Amerika Utara, Amerika Tengah dan Karibia, sementara AFC bertanggung jawab atas sepak bola Asia.
Di sisi lain, ketiga konfederasi disebut masih memberikan kesempatan kepada Infantino untuk mengundurkan diri secara terhormat dan tidak mencalonkan diri kembali dalam pemilihan Presiden FIFA pada Maret tahun depan.
Mereka menilai sepak bola membutuhkan kepemimpinan yang bertanggung jawab kepada komunitas sepak bola, bukan kepemimpinan yang berupaya memusatkan kendali.
“Persatuan selalu menjadi kekuatan sepak bola. Kami menyerukan agar persatuan itu dihormati sekarang, untuk kepemimpinan yang melayani sepak bola, bukan berusaha menguasainya,” demikian pernyataan bersama UEFA, AFC, dan Concacaf. (saf/ipg)

NOW ON AIR SSFM 100

