Selasa, 19 Januari 2021
Advertorial

Ketika Machfud Arifin Mendengar Keluh Kesah Warga Kampung Nelayan

Laporan oleh Tim Redaksi
Bagikan
Machfud Arifin Calon Wali Kota Surabaya saat blusukan di Kampung Nelayan Morokrembangan. Foto : Istimewa

Warga Morokrembangan mayoritas bekerja sebagai nelayan. Ketika Irjen Pol (Purn) Machfud Arifin Calon Wali Kota Surabaya datang, mereka seolah menemukan samudera tempat meluapkan bermacam uneg-uneg yang terpendam selama ini.

Sore itu, mereka menggelar senam sambil berjemur ‘memanggang’ virus corona. Senam sore itu digelar Relawan Machfud Arifin Arek Suroboyo (Remaas) di Lapangan RW 8, Morokrembangan, Surabaya.

Machfud Arifin yang berada di antara puluhan warga, langsung diberondong bermacam keluhan dan aduan. Mulai dari soal minimnya fasilitas mandi cuci kakus (MCK), kebutuhan air bersih, lapangan tempat olahraga dan kegiatan warga kampung, hingga masalah banjir yang kerap dialami warga saat air laut pasang.

“Kalau musim air laut pasang, airnya masuk ke kampung. Memang ada pintu air, tapi kondisinya rusak. Sudah kita laporkan sekitar tiga bulan lalu. Tapi sejak ada pandemi, akhirnya break pembangunan,” ujar Ladri, Ketua RW 8 Morokrembangan.

Warga juga mengeluhkan minimnya air bersih dan fasilitas MCK yang tidak semua warga banyak memilikinya.

“Warga di sini kebanyakan tidak punya MCK, karena perkampungannya memang sempit. Warga kalau buang hajat (buang air besar) di MCK umum,” ungkapnya.

Jumlah penduduk RW 8 ini sekitar 2.100 jiwa. Sementara fasilitas MCK hanya ada 4 titik. Tiap titiknya ada 4 ruang buang air besar. Dari 4 titik itu pun, hanya tiga titik yang berfungsi. Satu titik lainnya masih dalam tahap renovasi.

Ladri berharap kepada Machfud Arifin, jika nantinya terpilih sebagai wali kota Surabaya agar dapat memenuhi fasilitas umum warga.

“Harapan saya nantinya Pak Machfud Arifin menjadi wali kota. Kalau sudah jadi, tolong fokus untuk lapangan ini dibantu ditinggikan, agar seperti di tempat lain, bisa menjadi tempat futsal, voli, senam dan lainnya,” ujarnya. “Di sini setiap air pasang kan tenggelam, jadi nggak bisa digunakan. Ketika lapangannya tenggelam, kita pinjam lapangan punya Angkatan Laut.”

Persoalan banjir air pasang ini, katanya, sudah disampaikan ke Musrenbang Kelurahan. Namun sampai sekarang belum ada realisasi.

Selain mendengar keluh kesah warga, Machfud Arifin juga melihat proses pengasapan ikan yang dilakukan kaum ibu-ibu perkampungan nelayan Morokrembangan.

Mereka bercerita, ikan-ikan itu tidak semua dari hasil tangkapan para nelayan sendiri. Sebagian mereka beli di Pasar Pabean Surabaya, kemudian diasap di perkampungan nelayan ini. Bagi mereka tidak masalah asal perekonomian warga tetap berjalan.

Ibu-ibu yang sedang melakukan pengasapan ikan, menaruh harapan besar kepada Calon Wali Kota Surabaya yang diusung koalisi 8 partai itu. Mereka berharap, ketika Machfud Arifin menang, jangan sampai lupa dengan kebutuhan warga akan fasilitas, seperti air bersih dan MCK.

“Kalau dicoblos menang, jangan lupa ya,” cetus seorang ibu kepada Machfud Arifin, sambil sibuk mengasap ikan.

Seusai menyapa warga kampung nelayan dan ibu-ibu senam sehat sore hari di Morokrembangan, Machfud Arifin melanjutkan perjalanan ke kampung di kawasan pesisir Tambak Wedi, dekat Jembatan Suramadu.

Di lokasi acara yang digelar oleh Partai Demokrat itu, Machfud Arifin lagi-lagi mendapatkan keluhan dari warga. “Anak-anak sekolah supaya diperhatikan lah,” ujar seorang ibu.

Mendapatkan berbagai keluhan dari warga kampung neyalan Morokrembangan hingga Tambak Wedi, sosok Machfud Arifin yang ramah dan tekun berdialog dengan warga itu menjelaskan, semua yang dikeluhkan warga itu sudah masuk dalam programnya sebagai calon wali kota Surabaya ke depan.

“Di kampung nelayan Morokrembangan tadi saya lihat memang kendalanya terutama air. Aktivitas pengasapan ikan, kebanyakan ikannya bukan bersumber dari sana. Ada satu jenis ikan yang di sana, tapi yang lain beli di Pasar Pabean,” jelasnya.

Melihat aktivitas pengasapan ikan oleh warga, Machfud Arifin langsung terinspirasi. Dia ingin tempat usaha pengasapan ikan seperti di Morokrembangan, ke depannya bisa ditata yang rapi, indah dan menjadi salah satu tempat wisata kuliner.

“Kalau bisa tempat pengasapan menjadi tempat wisata kuliner, diupayakan menjadi kawasan wisata yang bagus,” tuturnya.

” Di Tambak Wedi juga mengalami persoalan yang sama, terkait masalah banjir. Saluran airnya nggak konek. Wisata juga nggak ada. Tadi di Morokrembangan, pintu airnya rusak, plengsengannya juga rusak. Ini harus menjadi prioritas dan diutamakan,” katanya tegas.

Tidak hanya soal sarana-prasarana. Persoalan sosial lainnya juga menjadi konsen Machfud Arifin selama kunjungan ke kampung-kampung. Seperti masalah kemiskinan, kesejahteraan yang tidak merata, bantuan-bantuan yang tidak tepat sasaran, dan masih banyak lagi.

“Warga yang meninggal dunia malah dikasih (bantuan), sedangkan yang masih hidup dan semestinya mendapatkan haknya, malah tidak dapat. Ini yang menjadi persoalan, setiap ketemu warga ya begitu,” tambah arek asli Ketintang, Surabaya ini.

“Ini (penyelesaian sosial ekonomi) yang harus diutamakan. Bukan sekadar keindahan, tapi kebutuhan masyarakat dasar harus diberikan,” terangnya.

Machfud Arifin yang dikenal sebagai Bapak Pembangunan di Polda Jatim ini punya keyakinan, Surabaya ke depan menjadi lebih maju dengan masyarakatnya yang sejahtera.

“Surabaya akan menjadi maju kotane, makmur wargane. Saya punya feeling dan keyakinan itu,” tegasnya.(*)

Berita Terkait

Potret NetterSelengkapnya

Truk Mogok di Manyar Gresik

Jeglongan di Wedi Gedangan

Jalan Rusak di Brigjend Katamso Sudah Ditambal

… Lewati Lembah, Sungai Mengalir, Eh Bukan

Surabaya
Selasa, 19 Januari 2021
26o
Kurs